Di balik hamparan hijau yang menyejukkan mata dan alunan angin yang menari di antara daun-daun padi, tersimpan cerita tentang sosok yang sering diromantisasi— Pak Tani. Dalam narasi populer, kehidupan petani sering kali digambarkan dengan kesederhanaan yang penuh keindahan dan kebahagiaan yang tulus. Namun, di balik senyum yang terlukis di wajah mereka, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang jarang terungkap atau sengaja dibungkam.
Petani, sosok yang sering diromantisasi bahwa mereka baik baik saja, kerap kali harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Senang atau tidak, hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Indonesia masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan serta belum beranjak jauh dari lingkaran kemiskinan. Tidak hanya itu, penelitian Firdaus dan Sunarti menyebutkan bahwa meskipun petani memiliki variasi dan tambahan jam kerja, kondisi tersebut tidak menjamin keluarga petani menjadi tidak miskin. Mereka terbiasa dengan ketidakpastian harga hasil panen, minimnya akses teknologi pertanian, serta kebijakan yang kurang berpihak.
Petani, sosok yang sering diromantisasi bahwa mereka penuh dengan kesederhanaan, menerima keadaan, serta selalu bersyukur kepada tuhan, apakah sejatinya memang demikian? Pernahkan kita sejenak saja berpikir bahwa kesederhanaan yang ditampilkan bukanlah gambaran penuh mengenai tantangan nyata yang dihadapi? Bukankah menerima atas segala situasi dan keadaan hidup adalah satu-satunya pilihan yang mereka punya? Jika tidak menerima keadaan dan bersyukur atasnya, lantas kepada siapa harus mengadu selain kepada tuhan? Bukankah pemerintah dengan janji lima tahunan yang romantis itu juga tak peduli?
Narasi Indonesia Emas 2045 seperti jargon yang terus digaungkan namun pupus nyawanya. Mereka—para elit sangat optimis bahwa Indonesia mampu mencapai masa kegemilangannya di usia 100 tahun. Bukan tidak mendukung, namun kita juga perlu menyadari PR besar yang hingga saat ini belum terselesaikan. Potret keluarga petani contohnya. Bukankah Indonesia dengan julukan Emerald of the Equator nya itu harusnya mampu mensejahterakan sektor pertaniannya secara optimal? Keluarga petani kita hanya mendapatkan sedikit upah dari seluruh proses pertanian yang dilakukan. Ada banyak hal yang perlu dibenahi soal ketidakpastian hasil tani serta dinamika permainan harganya. Lama pendidikan yang rendah pada keluarga petani seringkali menjadi sasaran empuk para oknum untuk membodohi dan melakukan kejahatan.
Membangun kesejahteraan dan ketangguhan keluarga petani memang bukan perkara mudah, namun bukan tidak mungkin. Pembangunan wilayah pertanian perlu mendorong keaktifan dan keikutsertaan aktor-aktor di wilayah tersebut. Bantuan yang sifatnya hanya kuantitas tentu tidak akan signifikan berdampak pada keluarga petani. Pemberdayaan berkelanjutan yang mampu mendorong petani untuk berinovasi, berkolaborasi, serta bertransaksi dengan aktor yang lebih luas tentu akan menjadi angin segar yang mampu meningkatkan ketangguhan keluarga petani. Petani jangan sampai dianggap sebagai aktor pasif karena hal tersebutlah yang justru akan melanggengkan keterbatasan keterampilan hidup mereka.
Pembangunan kawasan pertanian perlu menggunakan pendekatan khusus yang memperhatikan keluarga sebagai sebuah sistem. Keluarga sebagai sistem menggambarkan entitas kompleks di mana anggota saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain melalui berbagai peran, fungsi, dan interaksi. Pendekatan ini membantu memahami bagaimana dinamika internal keluarga serta faktor eksternal mempengaruhi kesejahteraan dan perkembangan anggota keluarga secara keseluruhan. Pembangunan kawasan pertanian yang berhasil harusnya sejalan dengan kesejahteraan keluarga petani di wilayah tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa antara lingkungan dan keluarga dapat bertransaksi secara positif yang tentunya dapat berkontribusi terhadap penguatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, yang dalam hal ini adalah keluarga petani.
Euis Sunarti pernah menyebutkan bahwa pada faktanya keluarga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang ramah terhadap keluarga mencerminkan adanya aspek fisik dan sosial yang memadai sehingga keluarga didalamnya mampu tahan terhadap berbagai tantangan. Selama ini, problematika lingkungan dan kawasan pertanian di Indonesia mencakup berbagai aspek yang kompleks dan dinamis. Menangani tantangan ini memerlukan pendekatan yang holistik, termasuk kebijakan yang mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, inovasi teknologi pertanian, peningkatan akses pasar, serta penguatan kapasitas dan kesejahteraan petani secara keseluruhan.
Banyak hal lain terkait potret kehidupan petani yang belum tersampaikan. Refleksi mendalam tentang kehidupan petani di Indonesia sejatinya mampu mengungkap bahwa romantisme tentang kesederhanaan dan kebahagiaan dalam narasi populer seringkali tidak mencerminkan realitas pahit yang dihadapi. Petani, meskipun dianggap sebagai penyemai harapan, masih terperangkap dalam kemiskinan dan ketidakpastian ekonomi yang mengakar. Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan secara menyeluruh. Keluarga petani sering mengalami stres psikologis akibat tekanan ekonomi yang konstan, serta risiko kesehatan yang lebih tinggi karena akses terbatas terhadap layanan kesehatan yang memadai. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan dalam keluarga petani juga memperburuk prospek ekonomi jangka panjang mereka, membatasi kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Sebagai refleksi atas potret keluarga petani, penting untuk bertanya: apakah kita dapat melampaui narasi romantisme dan memperjuangkan solusi konkret untuk mengakhiri siklus kemiskinan dan ketidakpastian yang mereka hadapi? Langkah Langkah seperti pembangunan wilayah ramah keluarga, penguatan modal sosial petani, peningkatan akses teknologi pertanian, atau bahkan ragam kebijakan implisit maupun eksplisit yang bermuara pada ketahanan dan kesejahteraan keluarga petani dapat menjadi kunci nyata. Pertanyaan diatas mengajak kita untuk lebih dari sekadar merenung, tetapi juga untuk bertindak proaktif dalam mengubah realitas yang dihadapi oleh para petani—pejuang “Emerald of the Equator“, agar tak pupus ditengah jalan.


Leave a Reply