Oleh Adriano Rusfi
Aku sedang asyik menyeruput es kelapa kopyor, di sebuah kebun kelapa kopyor pinggir Kota Bogor saat sebuah chat datang dari Kota Malang: “Ustadz, bisakah memberikan wawasan Islam kepada kami tentang disabilitas?”. Seperti biasa, aku selalu tertantang tentang hal baru, tentang Islam, tentang manusia, tentang psikologi karena hanya perlu meminta “bocoran” ke langit sambil sedikit merajuk, menodong, berharap, atau menggali ilham dari dalam diri (inside-out). Kujawab, ”Insya Allah, bu”.
Aku tak pernah sedikitpun percaya bahwa Allah pernah menciptakan makhluk cacat dan aku merasa perlu mengulang syahadatku jika sempat punya rasa bahwa Allah sesekali menciptakan produk gagal atau rejected. Maha Suci Dia dari sifat-sifat semacam itu dan telah Allah menjamin bahwa Ia ciptakan setiap manusia dalam sebaik-baiknya kejadian (QS. At-Tiin: 4). Lalu, Ia ciptakan dan sempurnakan segalanya (QS. Al A’la: 2). Seringkali Allah hanya pindahkan fungsi dari tempat lazimnya.
Bahkan Allah tantang manusia dengan mutlak percaya diri, selayaknya Sang Maha Benar dan Maha Mutlak. Mustahil ciptaan-Nya ada yang cacat. “Dia-lah Allah Yang menciptakan tujuh langit berlapis. Engkau tak akan melihat pada ciptaan Ar-Rahman itu sesuatu yang tak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah engkau lihat yang cacat? Kemudian engkau lihat lagi dan lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan letih (karena tak temukan cacat sedikitpun)” (QS. Al Mulk: 3-4) .
“Ah, manalah mungkin Allah ciptakan orang buta dan tuli”, batinku dalam hati, “Padahal di akhirat kelak pendengaran dan penglihatan masing-masing, bukan salah satu, akan dimintai pertanggungjawabannya”. Itulah yang kubaca dan kupahami dalam Surah Al-Isra’ ayat 36. Disabilitas hanya persoalan persepsi. Ketika kita melihat manusia dengan kacamata kurva normal, maka mayoritas adalah normal dan sisanya abnormal. Ketika kita menggunakan norma dan bukan kriteria, maka mayoritas adalah abilitas dan sisanya disabilitas. Maka, aku harus membaca manusia dengan kacamata Ilahi: “Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang Menciptakan, Yang menciptakan manusia dari ‘alaq” (QS Al ‘Alaq: 1-2). Jadi, mereka itu disorder atau extraordinary?
Sayangnya, mereka dibawa ke lembaga terapi sebagai orang cacat, abnormal, disabilitas dan berkekurangan selayaknya bengkel dan klinik yang ditangani lalu selesai. Ukurannya adalah kita, yaitu orang normal. Penanganan mereka adalah mendekatkan mereka sedekat mungkin dengan normalitas, setidaknya bisa self-help. Kita butuh lembaga pendidikan, bukan bengkel dan bukan klinik untuk optimalisasi potensi. Sungguh, bersama kelemahan ada kelebihan. Itulah keseimbangan yang dijanjikan.
Es kelapa kopyorku telah habis kuseruput, dua gelas. Sebenarnya kelapa kopyor ini adalah kelapa cacat genetik. Cuma mereka bernasib baik, tak diperlakukan sebagai kelapa disabilitas, tapi sebagai kelapa istimewa, yaitu ekstrabilitas. Alih-alih diperbaiki, justru dibudidayakan lewat kultur jaringan. Sambil meninggalkan lokasi, aku berkhayal ingin punya waktu mendesain extrability potential assessment. Semoga dalam perjalanan ke Malang Allah turunkan ilham-Nya. Pasti tidak mudah mengukurnya.


Leave a Reply