Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas : Membangun Fondasi Ketahanan Keluarga pada Anak Jalanan

Oleh Cheira Baby Trie

Keluarga adalah institusi pertama dan utama bagi kehidupan setiap individu, dimana keluarga merupakan unit terkecil dalam kehidupan bermasyarakat (Nursyifa, 2020). Dari keluargalah akan lahir tunas-tunas unggul yang akan melanjutkan tonggak estafet perjuangan bangsa. Dalam keluarga rasa cinta, dukungan dan rasa aman pertama kali dirasakan sehingga menciptakan hubungan emosional yang kuat dan erat, lebih dari itu keluarga juga hadir sebagai landasan utama bagi pembentukan dan perkembangan karakter seseorang. Selain itu, nilai-nilai dasar, norma, dan etika juga ditanamkan dalam keluarga sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga menjadi pondasi yang kokoh bagi setiap individu. Di tengah kehidupan yang penuh tantangan dan dinamika saat ini, ketahanan keluarga menjadi kunci untuk menjaga kestabilan dan kesejahteraan anggota keluarga. Ketahanan keluarga bukanlah sekadar kemampuan untuk bertahan dalam masa sulit, tetapi juga kemampuan untuk tumbuh dan berkembang secara positif meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan sehingga diperlukan adanya komunikasi yang positif dan usaha dalam mencari solusi untuk pemecahan masalah yang dihadapi diantara anggota keluarga. Beberapa masalah yang kerap kali muncul dalam rumah tangga dalam ketahanan keluarga menurut beberapa literatur, yaitu perceraian, poligami dan perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, permusuhan antar saudara, hingga bentuk-bentuk kenakalan tertentu pada anak maupun orang dewasa (Ulfiah, 2021).

Ketahanan keluarga penting karena berkaitan dengan banyak faktor, seperti kesejahteraan ekonomi, perkembangan tumbuh kembang anak, pengendalian emosional, dan masih banyak lagi. Adapun urgensi dari ketahanan keluarga ini, diantaranya dapat menstabilkan emosional anggota keluarga yang merupakan hal ini penting bagi kesehatan mental individu dalam keluarga (Walsh, 2016). Anak-anak yang lahir dari keluarga yang memiliki ketahanan keluarga yang baik, cenderung akan memiliki perkembangan yang lebih baik dari sisi akademis maupun sosialnya karena mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk mencapai potensi terbaik mereka. Selain itu, keluarga dengan ketahanan lebih juga akan mampu mengelola sumber daya yang ada dengan efektif dan efisien sehingga lebih mampu dan siap menghadapi kondisi-kondisi sulit, seperti krisis keuangan (Ruter, 2012). Namun, tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk membangun ketahanan ini dengan sendirinya terutama di lingkungan yang kurang mendukung, seperti anak jalanan yang sering kali terpinggirkan dari akses pendidikan dan bimbingan yang memadai, tantangan untuk membangun keluarga yang stabil menjadi lebih berat. Anak-anak ini tumbuh tanpa arahan yang jelas, membuat mereka kesulitan dalam membangun masa depan yang stabil, termasuk dalam membentuk keluarga yang kuat. Sehingga diperlukan solusi yang komprehensif mengenai permasalahan ini.

Salah satu kasus yang pernah ramai diperbincangkan mengenai isu ketahanan keluarga pada anak jalanan, dikutip dari akun sosial media TikTok @rhindaghinan yang merupakan founder dari Komunitas Sosial Rumah Pelangi. Pada akun tersebut ramai beberapa video yang meliput kisah Tia, seorang perempuan berusia 20 tahun yang tengah hamil besar 8 bulan namun tinggal di jalanan bersama lelaki bernama Franz yang menurut penuturan Tia adalah suaminya. Perempuan yang tengah hamil muda itu menjalani kehidupan sehari-harinya di jalanan dan mempunyai kebiasaan buruk, seperti menghirup aroma lem, merokok, bahkan mabuk. Tia tidak memiliki kartu identitas apapun dan tidak ada keluarga. Sebagai ibu hamil, tentu kondisi Tia sangatlah mengkhawatirkan terlebih dengan kebiasaan buruk Tia di jalanan yang akan mengancam kesehatan dan keselamatan bayinya. Biaya persalinan Tia melambung tinggi karena harus melahirkan secara prematur disalah satu rumah sakit di kota Bandung. Biaya persalinan yang jauh diluar estimasi dari Rumah Pelangi menjadikan Inan (founder) dan tim mencari bantuan ke dinas sosial terkait namun hasilnya nihil. Inan sudah bertemu dan berkoordinasi langsung dengan Dinas Sosial Kota Bandung, namun tidak mendapatkan jalan keluar karena Tia tidak terdaftar sebagai warga kota Bandung. Tak hanya itu Inan juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat namun tetap tidak membuahkan hasil dengan alasan Tia melahirkan di rumah sakit di luar wilayah Kabupaten Bandung Barat. Bantuan diminta hingga ke Kementerian Sosial RI, tetapi masih dalam tahap birokrasi. Akhirnya seluruh biaya persalinan dan perawatan ibu serta bayi di rumah sakit ditanggung dari dana donasi netizen yang simpati terhadap Tia.

Berdasarkan kasus tersebut, penting adanya suatu solusi baik bersifat preventif maupun represif. Diperlukan adanya kolaborasi antara pemerintah dan komunitas sosial yang sama-sama berperan aktif dan saling melengkapi untuk dapat meningkatkan ketahanan keluarga pada anak jalanan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya:

1. Membuat kebijakan 

Pemerintah harus mengembangkan kebijakan yang secara khusus ditujukan untuk melindungi hak-hak anak jalanan. 

2. Menyediakan layanan sosial 

Pemerintah dapat menyediakan layanan sosial, seperti tempat penampungan, dan layanan konseling yang dapat membantu anak-anak jalanan dapat kembali ke sekolah serta mendapatkan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan dan memperbaiki kondisi hidup mereka. Disamping itu juga, pemerintah dapat bertindak sebagai koordinator antara berbagai lembaga, organisasi non-pemerintah (LSM), dan komunitas sosial untuk memastikan bahwa upaya yang dilakukan untuk membantu anak jalanan saling melengkapi dan berjalan efektif. Dengan bantuan dana dan dukungan pemerintah, komunitas sosial dapat mendirikan atau mengelola tempat penampungan sementara yang aman bagi anak jalanan, memberikan mereka tempat tinggal sementara sambil mencari solusi jangka panjang 

3. Memberi edukasi 

Pemberian program edukasi pranikah mengenai pentingnya kesiapan emosional, spiritual, dan finansial bagi calon pengantin. Sosialisasi ini dapat dilakukan di jalanan dimana tempat anak-anak jalanan berkumpul dan bekerja sama dengan komunitas sosial yang ada terkait pemberian edukasi ini. 

4. Menyediakan akses layanan kesehatan 

Pemerintah dapat menyediakan akses ke pelayanan kesehatan yang dapat membantu anak jalanan terutama bantuan medis darurat. Komunitas sosial juga dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan klinik kesehatan keliling atau pusat kesehatan komunitas yang menawarkan layanan kesehatan dasar, pemeriksaan rutin, dan layanan kesehatan mental untuk anak jalanan.

5. Mendorong partisipasi masyarakat 

Mengedukasi dan melibatkan anggota masyarakat dalam upaya membantu anak jalanan melalui kampanye kesadaran, penggalangan dana, dan kegiatan sukarela. Komunitas bisa mengadakan acara untuk meningkatkan kesadaran tentang isu anak jalanan dan menggalang dukungan publik.

Ketahanan keluarga merupakan pondasi utama dalam membangun masyarakat yang stabil, sejahtera, dan harmonis. Dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman modern, seperti tekanan ekonomi, perubahan sosial, dan krisis kesehatan, kemampuan sebuah keluarga untuk bertahan dan berkembang menjadi semakin penting. Pemerintah dan komunitas sosial memegang peran penting dalam mendukung dan memperkuat ketahanan keluarga, terutama bagi kelompok yang rentan seperti anak jalanan. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan layanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan dukungan ekonomi telah terbukti efektif dalam membangun keluarga yang tangguh. Melalui kebijakan yang tepat dan program-program yang inovatif, pemerintah dapat memberikan kerangka kerja dan sumber daya yang diperlukan. Di sisi lain, komunitas sosial dapat mengimplementasikan inisiatif-inisiatif yang berbasis pada kebutuhan dan konteks lokal, sehingga memberikan dukungan yang lebih personal dan langsung kepada keluarga yang membutuhkan.

Dengan bekerja sama, pemerintah dan komunitas sosial dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi setiap keluarga untuk berkembang. Program edukasi pranikah, dukungan sosial, bantuan ekonomi, dan akses ke pelayanan kesehatan adalah beberapa contoh cara sinergi ini dapat diterapkan. Pada akhirnya, ketahanan keluarga tidak hanya tentang kemampuan untuk bertahan di masa-masa sulit, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih cerah dan penuh harapan bagi setiap anggota keluarga. Upaya bersama ini jika dilakukan dengan konsisten dan komprehensif akan memastikan bahwa setiap keluarga, termasuk mereka yang paling rentan, memiliki peluang yang adil untuk mencapai kesejahteraan dan stabilitas. Dengan demikian, kita semua berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih kuat, inklusif, dan harmonis.

Daftar Pustaka

Nursyifa, A. (2020) ‘Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga Dalam Perspektif Sosiologi Gender’, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 7(1), p. 55. Available at: https://doi.org/10.32493/jpkn.v7i1.y2020.p55-68. 

Rutter, M. (2012). Resilience as a Dynamic Concept. Development and Psychopathology, 24(2), 335-344. 

Ulfiah, U. (2021) ‘Konseling Keluarga untuk Meningkatkan Ketahanan Keluarga’, Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(1), pp. 69–86. Available at: https://doi.org/10.15575/psy.v8i1.12839

Walsh, F. (2016). Family resilience: A developmental systems framework. European Journal of Developmental Psychology, 13(3), 313-324. .


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *