Retno Wijayanti
Ketahanan keluarga merupakan fondasi penting dalam pembangunan suatu negara. Keluarga yang tangguh mampu mengatasi berbagai tantangan, baik di lingkungan pedesaan maupun perkotaan Lingkungan dimana keluarga menetap turut mempengaruhi kondisi dan perkembangan keluarga (Bronfenbrenner 1979; Berns 1985). Ketahanan keluarga di desa dan kota memiliki karakteristik serta tantangan yang berbeda, karena keluarga berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan dan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun non fisik, lingkungan alam, lingkungan buatan manusia, maupun lingkungan sosial (Sunarti, 2011). Kondisi ini membutuhkan pendekatan yang berbeda pula dalam upaya membangun ketahanan keluarga.
Tantangan Ketahanan Keluarga di Pedesaan dan Perkotaan
Keluarga di desa memiliki lingkungan alam lebih luas, sebagian besar keluarga di desa masih bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama. Ketergantungan ini membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan perubahan iklim. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur lainnya sering kali lebih terbatas dibandingkan dengan keluarga di perkotaan. Keterbatasan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar yang berkualitas menjadi hambatan besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup dan ketahanan keluarga di desa. Tetapi Keluarga di desa umumnya hidup dalam lingkungan yang lebih komunal. Ikatan sosial yang kuat antar tetangga dan kerabat dapat menjadi sumber dukungan penting, terutama dalam menghadapi kesulitan.
Keluarga di Kota memiliki keterbatasan sumberdaya alam sehingga sumber penghasilan lebih beragam, dan mengandalkan sumberdaya manusia seperti sektor jasa, manufactur. Namun tekanan biaya hidup yang tinggi, terutama dalam hal perumahan, adanya persaingan akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, dapat menambah beban ekonomi keluarga. yang sering kali memaksa kedua orang tua untuk bekerja penuh waktu, mengurangi waktu berkualitas bersama anak-anak. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Islamia et al. (2019) bahwa tekanan psikologis yang paling banyak dialami oleh keluarga adalah berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi anak, keluarga, dan ekonomi.
Keluarga di perkotaan cenderung lebih dinamis, dengan mobilitas yang tinggi baik dalam hal pekerjaan maupun tempat tinggal. Hal ini bisa menyebabkan lemahnya ikatan sosial antar keluarga. Wilayah perkotaan memiliki karakteristik berupa perbedaan kultur sosial dan keadaan masyarakatnya (Halim 2008), dan banyak terjadinya perubahan kehidupan sehingga meningkatkan tekanan (Berns 1985). Fragmentasi sosial dan kurangnya dukungan komunitas dapat membuat keluarga di perkotaan merasa terisolasi, terutama bagi pendatang baru Keluarga di kota biasanya memiliki akses yang lebih baik ke layanan publik, namun hal ini tidak selalu menjamin kualitas hidup yang lebih baik, terutama jika beban kerja dan stress yang tinggi sehingga mempengaruhi mempengaruhi kesejahteraan keluarga (Islamia, 2019)
Solusi untuk Meningkatkan Ketahanan Keluarga
Menurut Sunarti (2015) ketahanan keluarga didefinisikan sebagai kemampuan keluarga untuk mengelola sumberdaya keluarga, mengelola dan menanggulangi masalah yang dihadapi, untuk mencapai tujuan yaitu kesejahteraan keluarga. Terdapat tiga faktor laten ketahanan keluarga yaitu ketahanan fisik-ekonomi, ketahanan sosial, dan ketahanan psikologis. Oleh karena itu upaya untuk menguatkan ketahanan keluarga diantaranya adalah
- Penguatan Ekonomi Keluarga
Bagi keluarga dengan sumber nafkah pertanian agar mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga maka diperlukan kebijakan dan program pembangunan pertanian yang semakin fokus, bisa menemukan komoditas unggulan sesuai potensi lokal, dan menemukenali beragam upaya inovasi nilai tambah produk pertanian (Sunarti, 2006). Petani yang memiliki akses dan memanfaatkan informasi yang diterimanya memiliki peluang yang lebih besar untuk lebih sejahtera (secara subjektif) (Sunarti, 2015). Peningkatan pendapatan Keluarga di kota adalah dengan program-program pelatihan keterampilan dan manajemen keuangan bagi pelaku UMKM agar dapat membantu mereka mengelola keuangan dengan lebih baik sehingga meningkatkan omzet penjualan (Putra et al.,2020).
- Peningkatan Pengetahuan Berkeluarga
Tingkat ketahanan keluarga ditentukan oleh perilaku individu dan masyarakat. Individu dan keluarga yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ketahanan keluarga yang baik, akan mampu bertahan dengan perubahan struktur, fungsi dan peranan keluarga yang berubah sesuai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (Musfiroh, 2019). Individu dan keluarga yang mampu bertahan dengan perubahan lingkungan, berpotensi memiliki ketahanan keluarga yang kuat. Merespon situasi yang berkembang di masyarakat dan tuntutan akan peranan dan fungsi keluarga yang berketahanan, maka perlu dikembangkan kebijakan sosial yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan keluarga tersebut. Pada tingkat lokal, sudah banyak program program yang dikelola oleh kelembagaan sosial (Suradi, 2013) yang berada di pedesaan maupun perkotaan, diantaranya Program Tribina yaitu BKB (Bina Keluarga Balita), BKR (Bina Keluarga Remaja) dan BKL (Bina Keluarga Lansia). Peranan pemerintah memberikan bimbingan dan asistensi, baik pada aspek kelembagaan maupun pada aspek program dan kegiatan.
- Pembangunan Lingkungan Ramah Keluarga
Pembangunan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan seiring dengan meningkatnya tuntutan pemenuhan hak asasi manusia untuk memperoleh kehidupan berkualitas tanpa merusak lingkungan alam maupun sosial (Sunarti, 2011). Lingkungan ramah keluarga merupakan wilayah terdekat dan terjangkau dalam interaksi kehidupan keluarga yang menyediakan lingkungan fisik dan sosial, memberikan feedback positif bagi keluarga, serta mampu meningkatkan implementasi ketahanan keluarga (Sunarti 2015). Faktor terbesar yang paling mempengaruhi kesejahteraan subjektif keluarga di desa pertanian dan desa industri adalah lingkungan ramah keluarga (Zahroo et al.,2024)
Di pedesaan sudah mempunyai lingkungan sosial yang kondusif yaitu adanya nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong, yang perlu diupayakan adalah menyediakan sarana prasarana yang mendukung berbagai kegiatan keluarga seperti rekreasi bersama berupa taman keluarga. Di wilayah perkotaan karakteristik yang menonjol adalah kehidupan yang indivualistik maka perlu didorong terbentuknya komunitas-komunitas warga yang saling mendukung, dan memunculkan kepedulian, partisipasi aktif di masyarakat.
Ketahanan keluarga baik di desa maupun kota sangat penting untuk membangun masyarakat yang sejahtera dan berkelanjutan. Meskipun memiliki tantangan yang berbeda, dengan pendekatan yang tepat, baik keluarga di desa maupun di kota dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan hidup. Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait sangat diperlukan untuk memastikan setiap keluarga dapat mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Berns, R. 1985. Child, Family, School, Community: Socialization and Support. London Sidney Tokyo: Hartcourt Brace College Publishers.
Bronfenbrenner, U. 1979. The Ecology of Human Development. USA: Harvard University Press.
Halim, DK. 2008. Psikologi Lingkungan Perkotaan. Jakarta: Bumi Aksara.
Islamia, I., Sunarti, E., & Hernawati, N. (2019). Tekanan psikologis dan kesejahteraan subjektif keluarga di wilayah perdesaan dan perkotaan. ANFUSINA: Journal of Psychology, 2(1), 91-100.
Musfiroh, M., Mulyani, S., Cahyanto, E. B., Nugraheni, A., & Sumiyarsi, I. (2019). Analisis Faktor-faktor ketahanan keluarga di kampung kb rw 18 Kelurahan Kadipiro Kota Surakarta. PLACENTUM: Jurnal Ilmiah Kesehatan Dan Aplikasinya, 7(2), 61-66.
Putra, I. G. S., Nababan, D., & Ligar, A. (2020). Dampak Pelatihan Manajemen Kreatif Industri Peci Menuju Sentra Peci Di Desa Langonsari Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung.
Sunarti, E., & Khomsan, A. (2006). Kesejahteraan keluarga petani, mengapa sulit diwujudkan. Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.
Sunarti E. (2011). Pengintegrasian Pembangunan Wilayah Ramah Keluarga di Kampung KB. Hasil Desk Studi Kajian Pembangunan Wilayah Ramah Keluarga. LPPM IPB.
Sunarti, E. (2015). Ketahanan keluarga Indonesia: Dari kebijakan dan penelitian menuju Tindakan
Suradi. (2013). Perubahan Sosial dan Ketahanan Keluarga: Meretas Kebijakan Berbasis Kekuatan Lokal. Informasi, 18(02), 83–94. http://puslit.kemsos.go.id/upload/post/files/7c7215558ab75901046e1db2065ed0 13.pdfZahroo, F., Sunarti, E., & Muflikhati, I. (2024). Tekanan Ekonomi, Religiusitas, Lingkungan Ramah Keluarga, dan Kesejahteraan Subjektif di Desa Pertanian dan Industri. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 13(2), 313-329


Leave a Reply