Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Pembangunan Pekerjaan Ramah Keluarga : Pembelajaran Intergenerasional di Kampung Rajut Binong Jati, Kota Bandung

Viena Rusmiati Hasanah

Pekerjaan Ramah Keluarga 

Keluarga berketahanan diwujudkan oleh pemenuhan peran, fungsi dan tugasnya secara optimal. Tentunya dibutuhkan sumberdaya yang memadai untuk mewujudkannya. Keluarga mengeluarkan sumberdaya semakin besar untuk menjalankan fungsi instrumental yaitu bekerja mencari nafkah, sebaliknya semakin menurun sumberdaya untuk fungsi ekspresif, yaitu pengasuhan, cinta kasih, agama, perlindungan keluarga. Faktor laten berbagai masalah bahkan krisis keluarga berasal dari ketimpangan pemenuhan peran-fungsi-tugas keluarga. Perubahan dan dinamika kehidupan yang semakin cepat, menuntut solusi penyediaan berbagai alternatif pekerjaan dan pola nafkah yang ramah keluarga yaitu pekerjaan yang mensejahterakan, khususnya secara finansial, sekaligus menjamin ragam fungsi keluarga lainnya dilaksanakan secara optimal, yang disebut dengan pekerjaan ramah keluarga. Pekerjaan ramah keluarga dapat meningkatkan partisipasi perempuan bekerja produktif sekaligus menjalankan fungsinya sebagai ibu dan pengelolaan pekerjaan domestik keluarga, demikian pula peran ayah sebagai pencari nafkah utama sekaligus pendidik dan melindungi anak dan keluarga (Sunarti, 2024)

Profil Kampung Rajut Binong Jati

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu tokoh Masyarakat sekaligus tokoh penggerak (TP) di Kampung Rajut Binong Jati, keterampilan merajut di Binong Jati, Kota Bandung memiliki sejarah yang cukup panjang dalam pengembangan seni rajut. Beberapa sumber menyebutkan bahwa keahlian merajut di Binong Jati sudah ada sejak sekitar tahun 1960-an. Kegiatan rajut ini mulai berkembang ketika pabrik-pabrik tekstil Tionghoa mempekerjakan para pekerja lokal untuk merajut bagian-bagian pakaian atau tekstil. Salah satu pekerjanya adalah kakek beliau yang kemudian mengajarkan secara turun temurun kepada anak anak dan cucunya. Keterampilan merajut ini berkembang kepada tetangga sekitar dan menjadi pola nafkah serta mata pencaharian bagi keluarga dan Masyarakat sekitar. 

Seiring berjalannya waktu dan tantangan kebijakan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), dimana persaingan dengan produk dari luar semakin tinggi, menyebabkan jumlah pengrajin rajut semakin berkurang dan para generasi muda di Kampung Rajut Binong Jati pun lebih memilih berkegiatan lain seperti berdagang, kerja di pabrik dan lain-lain. Fenomena ini mengancam regenerasi keterampilan merajut di Binong Jati sehingga atas inisiatif generasi ketiga dari pendiri, pada tahun 2114 dengan rebranding Sentra Rajut menjadi Kampung Rajut serta melakukan transformasi dengan kepemimpinan yang inovatif dan melibatkan antar generasi muda dan tua, untuk melakukan pemberdayaan dalam digitalisasi produk dan pemasaran. Konsep Kampung Wisata Rajut ini tidak hanya menjadi wadah aktivitas ekonomi para pengrajin rajut saja namun menjadi wisata edukasi yang berhasil mendapatkan nominasi dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia pada tahun 2021 yaitu sebagai Desa Wisata Simbol Kebangkitan Ekonomi Nasional oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dengan Keputusan Wali Kota Bandung Nomor 556/Kep.835-DISBUDPAR/2021 tanggal 16 September 2021. 

Kampoeng Radjoet memiliki daya serap tenaga kerja yang besar, di mana terdapat sebanyak 2.143 orang yang terlibat dalam berbagai aktivitas produksi rajutan dengan kapasitas produksi berbagai produk rajutan sebanyak 984.426 lusin per tahun (Kemenparekraf RI, 2021). Tidak hanya sekadar menjadi tempat produksi produk rajut, melainkan juga tempat wisata terintegrasi yang memadupadankan kearifan lokal dengan produk unggulan Sentra Industri Rajut Binong Jati. Menurut data dari Kelurahan Binong Kecamatan Batununggal, kapasitas produksi Kampung Rajut mencapai 984.426 lusin per tahun. Banyaknya jumlah produksi ini, membuat tokoh penggerak juga merubah strategi penjualan dari yang awalnya secara konvensional beralih secara digital melalui top 5 e-commerce per kuartal yang paling popular di google play seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan  Blibli. Hal ini membuat Kampung Rajut Binong Jati berhasil dikenal banyak orang sehingga mampu melakukan ekspor produk ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam serta menjadi agen produksi pusat rajut di Jawa Barat. 

Pembelajaran antargenerasi (Intergenerational Learning) di Kampung Rajut Binong Jati

Kegiatan rajut di Binong Jati sendiri tidak hanya menjadi kegiatan ekonomi semata, tetapi juga menjadi sebuah tradisi lokal dan warisan budaya yang turun-temurun dari generasi ke generasi. Para ibu dan nenek di Binong Jati yang merajut sejak kecil mengajarkan keterampilan rajut pada anak-anak dan cucu-cucu mereka, sehingga kegiatan merajut ini menjadi sebuah praktik budaya yang terus dilestarikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan TP (Sukma, 2024), “Kakek saya memiliki cara yang sangat istimewa dalam mengajarkan keterampilan merajut kepada generasi berikutnya di keluarga kami. Dia tidak hanya mengajarkan teknik merajut secara langsung, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai dan tradisi yang melekat pada keterampilan ini. Kakek saya selalu memulai dengan mengajarkan dasar-dasar merajut dengan sabar. Dia memberikan instruksi yang jelas dan langsung sambil memperlihatkan setiap langkah secara praktis. Kami, cucu-cucunya seringkali duduk bersama di ruang keluarga dan dia akan menunjukkan cara memegang benang dan jarum serta teknik dasar merajut satu per satu. Kakek seringkali meluangkan waktu untuk merajut bersama kami, memperbaiki kesalahan dan memberi umpan balik. Ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memperkuat keterampilan kami.”

Kakek tokoh penggerak mengajarkan merajut bukan hanya tentang transfer keterampilan teknis tetapi juga tentang membangun ikatan keluarga dan melestarikan warisan budaya merajut, “kakek saya sering bercerita tentang tradisi yang terkait dengan pola-pola rajutan. Setiap pola ternyata punya sejarah dan makna khusus yang dia bagikan kepada kami. Dengan cara ini, kami tidak hanya belajar cara merajut tetapi juga memahami dan menghargai nilai budaya di balik setiap karya. Dia juga memastikan bahwa keterampilan yang dia ajarkan tidak hanya berhenti pada kami tetapi diteruskan kepada generasi berikutnya. Dengan cara ini, kami menjadi pengajar untuk adik-adik dan sepupu kami, menjaga agar keterampilan ini tetap hidup dalam keluarga kami.”

Keluarga tokoh penggerak hidup dan berkembang dari waktu ke waktu dengan adanya usaha rajutan yang selalu dipertahankan keberadaannya yang jatuh ke tangan setiap regenerasi dengan konsep yang menyesuaikan dengan perkembangan saat itu. Oleh karena itu keluarga tokoh penggerak memiliki pandangan hidup yang sangat kental mengenai usaha merajut ini, “dari zaman kakek saya itu, emang mencari nafkahnya dari keterampilan merajut sampai akhirnya bisa membuka usaha rajutan sendiri, sehingga usaha rajutan ini menjadi penopang hidup bagi keluarga kami sehingga keluarga saya selalu memegang prinsip bahwa “rajutan bukan hanya tentang benang dan jarum; ia adalah jembatan yang menghubungkan tradisi dan masa depan.”

Ayah tokoh penggerak mengajarkan tokoh penggerak keterampilan merajut menggunakan mesin rajut flat knitting yang sudah lebih maju dibandngkan zaman kakeknya, “waktu ayah saya yang megang usaha keluarga ini produksi sudah lebih maju dibanding zaman kakek saya. Ayah saya sudah menggunakan mesin rajut flat knitting jadi prosesnya sudah cukup cepat dibandingkan mesin rajut manual zaman kakek saya.bentuk mesinnya itu datar dan dapat memproduksi kain dengan lebar yang bervariasi, mulai dari beberapa sentimeter. Jadi waktu produknya sudah lebih bervariasi dibanding sebelumnya, sudah ada sweater, kardigan dan syal juga.”

Tokoh penggerak sudah tertarik dari sejak dibangku SMA membantu ayahnya dalam memproduksi rajutan sehingga TP berpikir untuk menekuni pendidikan di bangku kuliah dengan mengambil jurusan ekonomi di salah satu kampus di Kota Bandung, “saya memang ingin kuliah dan memilih jurusan ekonomi karena saya ingin belajar lebih mendalam terkait ekonomi bisnis yang pastinya akan sangat mendukung upaya saya dalam melanjutkan dan mengembangkan usaha rajut keluarga. Meskipun kami sudah memiliki keterampilan teknis dalam merajut, saya menyadari bahwa aspek bisnis seperti perencanaan keuangan, manajemen sumber daya dan strategi pemasaran juga sangat penting untuk kesuksesan usaha kami di pasar yang semakin kompetitif. Dengan mempelajari ekonomi, saya juga bisa mendapatkan wawasan tentang bagaimana mengelola anggaran, mengoptimalkan proses produksi, dan memahami dinamika pasar yang dapat mempengaruhi permintaan produk kami. Selain itu, keterampilan ini memungkinkan saya untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik dan strategis, sehingga usaha rajut keluarga kami tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dalam menghadapi tantangan ekonomi global.”

Pergantian regenerasi usaha kepada tokoh penggerak oleh keluarga karena hampir bangkut akibat masuknya sistem MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada tahun 2014 masuknya sistem MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) membuat para pengrajin rajut mengalami kebangkutan karena tidak mampu bersaing dengan produk china yang sudah lebih canggih produksi rajutnya, “pada saat MEA berlaku kebetulan saya sudah tamat kuliah, ayah saya mulai mengarahkan saya untuk melanjutkan bisnis keluarga yang dikemas secara kekinian. Apalagi MEA itu kan sebuah peraturan yang mana produk-produk luar bebas masuk tanpa dikenakan biaya pajak yang tinggi. Pada saat itu banyak sekali produk rajutan China yang memang sudah standar teknologi dalam produksi, desain produk dan pemasarannya. Sementara pengrajin rajut Binong Jati masih menggunakan cara-cara konvensional dalam memproduksi dan pemasarannya. Nah ketidakmampuan untuk mengadopsi teknologi modern dan inovasi ini yang makin memperburuk situasi pengrajin rajut lokal. Berimbas pada penurunan permintaan pasar kaena ergiur dnegan produk china yang kualitasnya bagus tapi harganya murah sehingga banyak pengrajin rajut yang bangkrut.“

Tokoh penggerak mulai mengambil alih pengelolaan usaha rajutan milik keluarganya dengan mengadopsi berbagai inovasi-inovasi teknologi yang kekinian, “saya sebagai generasi ketiga dalam keluarga, merasa terhormat untuk meneruskan warisan usaha rajut ini dan terus mengembangkan kerajinan rajut kami dengan mengadopsi berbagai kecanggihan teknologi. Saya menjaga keaslian tradisi sambil menghadapi tantangan dan peluang baru di dunia modern. Awalnya saya mengganti nama usaha rajutan ini menjadi “Galleraj.id” dengan konsep dan segmen pasar yang lebih spesifik. Untuk inovasinya secara bertahap saya mulai dari perbaikan produktivitas menggunakan alat rajut komputer sehingga desainnya lebih kekinian dan bervariasi serta bisa memenuhi permintaan pasar. Kemudian saya mulai mengkonsepkan pemasaran secara online melalui platform Shopee, Tokopedia dan juga media sosial agar jangkauan pasar bisa semakin luas.”

Tokoh penggerak kompak bersama keluarga memajukan usaha rajutannya dengan saling berkolaborasi menjalankan perannya masing-masing,“saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Adik kedua saya kurang berminat pada usaha keluarga ini sehingga memilih bekerja di salah satu perusahaan, Namun suaminya membantu usaha ini sebagai brand marketing. Kemudian adik ketiga saya sedang berkuliah mengambil jurusan Ekonomi Pembangunan di UNISBA. Saat ini adik ketiga saya membantu usaha keluarga ini dengan perannya sebagai digital dan konten marketting. Sedangkan ayah dan ibu saya perannya sebagai kontrol produksi. Kalau saya sebagai direktur usaha nya.”

Pembelajaran antargenerasi mengacu pada proses transfer pengetahuan antara individu dari generasi yang berbeda. Jenis pembelajaran ini dapat terjadi di berbagai setting, seperti di keluarga, masyarakat, sekolah, dan tempat kerja. Transfer pengetahuan bisa dari individu yang lebih tua ke individu yang lebih muda atau sebaliknya, dan itu bisa melibatkan berbagai keterampilan dan pengetahuan, termasuk keterampilan praktis, tradisi budaya, dan peristiwa sejarah. Menurut Lase and Daeli (2020) pembelajaran antar generasi juga dapat membantu menjembatani kesenjangan antara kelompok usia yang berbeda, meningkatkan kohesi sosial, dan menumbuhkan rasa saling menghormati dan pengertian. Intergenerational learning atau pembelajaran antargenerasi merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mengaitkan generasi muda dan tua untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal mereka serta menciptakan hubungan yang harmonis antar-generasi. (Gerpott, Willenbrock, and Voepel, 2015)

Dalam konteks masyarakat Rajut di Binong Jati, Kota Bandung, intergenerational learning dapat menjadi suatu proses transfer ilmu dalam upaya pemberdayaan berbasis potensi lokal. Dalam komunitas Rajut tersebut, generasi tua memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas terkait dengan seni rajut, sementara generasi muda memiliki kecakapan dalam teknologi dan pemasaran. Dengan memanfaatkan potensi ini, intergenerational learning dapat membantu mengembangkan keterampilan rajut pada generasi muda serta meningkatkan kualitas produk dan pemasaran di kalangan komunitas Rajut tersebut. Selain itu, intergenerational learning juga dapat membantu memelihara kearifan lokal serta meningkatkan rasa kebersamaan dan kerjasama antar-generasi dalam komunitas Rajut. Upaya ini dapat melibatkan peran aktif dari berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas Rajut, serta masyarakat sekitar, sehingga dapat terwujud suatu pemberdayaan berbasis potensi lokal yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat setempat.

Beberapa upaya intergenerasional learning yang dilakukan pada masyarakat rajut Binong Jati antara lain:

1. Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan rajut: Sanggar Rajut Binong Jati memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan rajut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka bisa belajar dan memahami proses rajut serta mengenal dan melestarikan budaya rajut yang ada di komunitas mereka.

2. Kolaborasi antara generasi yang berbeda: Selain keterlibatan generasi muda dalam kegiatan rajut, Sanggar Rajut Binong Jati juga mengadakan kolaborasi antara generasi yang berbeda. Hal ini dilakukan agar para pemula dapat belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh para sesepuh dalam rajut

3. Pengembangan program pelatihan rajut: Sanggar Rajut Binong Jati mengembangkan program pelatihan rajut yang ditujukan untuk masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini dilakukan agar masyarakat dari berbagai generasi dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam rajut

4. Membuat dokumentasi tentang sejarah dan proses rajut: Sanggar Rajut Binong Jati membuat dokumentasi tentang sejarah dan proses rajut yang digunakan di komunitas mereka. Hal ini dilakukan agar pengetahuan tentang rajut dapat diwariskan dari generasi ke generasi dan tidak hilang begitu saja. Dengan adanya upaya intergenerasional learning yang dilakukan pada masyarakat rajut Binong Jati, diharapkan keterampilan rajut tradisional dapat terus dijaga dan dikembangkan, sehingga dapat terus menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia

Kesimpulan

Pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal melalui intergenerasional learning merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam proses Pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus peran fungsi tugas di keluarga dapat berjalan dengan baik. Kohesivitas inter dan antar keluarga dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, dan tertib karena pun dicanangkan menjadi desa wisata, semakin menguatkan individu, keluarga dan Masyarakat dalam membangun tatanan yang baik. Adanya tokoh penggerak yang juga menjadi bagian dari keluarga pewaris budaya dan tradisi usaha rajut sebagai potensi local dan optimalisasi sumberdaya dengan didukung dengan keilmuan dan motivasi dalam membangun masyarakat menjadikan kampung rajut dapat bertahan dan berkembang mengikuti perkembangan dan tuntutan era digitalisasi melalui intergenerasional learning. Praktek baik ini merupakan salah satu bentuk implementasi dalam membangun Pekerjaan Ramah Keluarga melalui pola pembelajaran antar generasi (intergenerasional learning) sehingga diharapkan dapat menguatkan ketahanan keluarga dan transaksinya dengan keluarga lain dan lingkungan di Kampung rajut Binong Jati menjadi ketahanan Masyarakat.

Daftar Pustaka

Sunarti, Euis (2024), Policy Brief KNPK Indonesia No 2. Tahun 2024. Pekerjaan Ramah Keluarga

Sukma, Arindha (2023), Bunga rampai Strategi Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal, Eureka Media Aksara, Bojongsari, Purbalingga

Sukma, Arindha (2024), Tesis : UPI Penmas

(Gerpott, Willenbrock, and Voepel, 2015)

Lase and Daeli (2020)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *