Oleh: Lusiana Rachmawati, S.Pd.

Dalam dunia pengasuhan kita banyak mengenal istilah perkembangan generasi. Ada yang diistilahkan sebagai generasi Z atau gen-Z yang diperkirakan lahir di sekitaran tahun 1997-2012.
Kemudian ada lagi istilah Generasi Milenila yang lahir dikisaran tahun 1981-1996, lalu Gen X yang lahir di sekitaran tahun 1965-1980. Selanjutnya Generasi Baby Boomer yang lahir tahun 1946-1964. Dan yang terakhir istilah Pra-Boomer yang lahir tahun 1945. Dari sekian istilah generasi maka saat ini kita sedang berhadapan dengan gen-Z, dimana istilah ini pertama kali dicetuskan dan dipopulerkan oleh seorang jurnalis yang Bernama Bruce Horovits pada tahun 2012. Juga seorang psikolog Bernama Jean Twenge pada tahun 2017 untuk judul bukunya. Gen-Z ditandai dengan peradaban teknologi yang semakin tinggi sehingga membuat generasi ini daya kreativitasnya tinggi, keingintahuannya banyak, ambisius, kepercayaan dirinya tinggi, bahasanya gaul. Semua itu didorong oleh situasi yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang serba cepat dan informatif.Berdasarkan hasil sensus penduduk (2020), mayoritas penduduk Indonesia di dominasi oleh generasi z atau sebesar 27,94 persen dari total populasi.
Professor Rhenald Kasali (2017) Dalam bukunya yang berjudul Strawberry Generation, merepresentasikan generasi z saat ini seperti buah strawberry. Strawberry, buah merah merona, indah terlihat, namun tidak tahan lama, mudah busuk dan hancur. Generasi Strawberry adalah generasi yang mempunyai kreativitas tinggi namun secara mental kejiwaan mudah rapuh,gampang sakit hati,walau kreatif dengan segudang ide, tetapi mudah hancur ketika mendapat tekanan, digerus kompetisi dan ketidakpastian (Kasali, 2017)
Hal ini selaras dengan kondisi kesehatan mental dimana dinyatakan bahwa generasi z merupakan generasi yang tidak cukup Tangguh. Ketika sebuah Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, menunjukkan ada lebih dari 19 juta penduduk berusia diatas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia diatas 15 tahun mengalami depresi. Kita bisa bayangkan bila kualitas pemuda semacam ini terus menerus terjadi, maka negara akan kehilangan generasi penerus yang bermental baja, mampu menghadapi berbagai macam rintangan dan menyelesaikan berbagai permasalahan. Dan tentu berakibat pada kualitas SDM kepemimpinan di masa mendatang.
Merujuk pada sejarahnya, istilah Generasi Strawberry itu lahir dari Thailand sekitar tahun 2000an yang digambarkan sebagai generasi yang secara fisik cantik, rapi,mempunyai kreativitas tinggi namun secara mental jiwa mudah rapuh dan tidak mampu menghadapi tekanan. Tentu, lahirnya sebutan generasi strawberry ini tidak terlepas dari pola asuh orangtua, sebab menurut para ahli ada kaitan antara karakter dan pola asuh yang diterapkan orangtua. Dan dikarenakan saat ini para orangtua sedang mengasuh anak-anak Gen-Z atau generasi strawberry maka orangtua ini pun disebut juga sebagai orangtua generasi strawberry atau atau strawberry parents.
Diana Baumrind seorang psikolog Klinis dan perkembangan dari Iowa State University bahwa pola asuh yang digunakan dalam membesarkan anak ada kemungkinan mempengaruhi keberhasilan anak di masa depan dalam hubungan romantis dan harmonis dengan keluarga, teman sebaya, dan pergaulan sosialnya.
Apa yang dikemukakan berdasarkan hasil penelitian Baumrind yang dilakukan terhadap 100 orang anak usia dini dengan menggunakan beberapa teknik observasi. Baumrind menyatakan bahwa Pengasuhan yang baik akan menghasilkan anak dengan kepribadian yang baik menjadi orang dewasa yang cerdas, percaya diri, bertanggung jawab, tangguh, mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan karena dalam proses pengasuhan orangtua mendidik karakter, kontrol diri dan membentuk tingkah laku yang di inginkan. Hal ini juga selaras dengan yang dikemukakan oleh American Psychological Association (APA), pengasuhan anak secara umum punya tiga tujuan, yaitu memastikan kesehatan dan keamanan anak, menyiapkan anak untuk menjadi orang dewasa yang produktif, serta mengajarkan nilai-nilai budaya kepada anak.
Dalam bukunya, Renald Kashali mengatakan “Anak-anak berhak keluar dari perangkap-perangkap yang bisa membuat mereka rapuh, sehingga penting bagi orangtua memilih gaya didikan atau gaya pengasuhan demi masa depan anak”. Hal ini mendorong beberapa peneliti dari kalangan akademisi yang dilakukan oleh Syifa Meiia hafsari,dkk dengan menggunakan metode penelitian fenomenologi dalam jurnal sosiologinya dan diterbitkan tahun 2021 menyatakan bahwa terdapat keterampilan orangtua dalam mengasuh anak-anak yang berpotensi tumbuhnya mereka menjadi generasi strawberry adalah diantaranya pola asuh.
Melalui pola asuh dalam keluarga inilah menjadi dasar kepribadian anak untuk menapaki kehidupan anak dalam lingkungan pergaulan sosialnya. Tentu saja, Orangtua perlu menerapkan pola asuh dengan mengambil salahsatu gaya pengasuhan yangn dominan dilakukan dalam mendidik anak-anaknya. Penelitian yangn dilakukan Diana Baumrind bisa menjadi alternatif pilihan dalam menerapkan gaya pengasuhan di keluarga.
Pertama, gaya pengasuhan Permisive
Orang tua dengan tipe pengasuhan permisive cenderung selalu menyetujui atau mengalah pada keinginan anak. Bahkan Orang tua bukan hanya senantiasa melibatkan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan, tapi juga menjadikan pilihan anak sebagai kebijakan keluarga. Dalam pelaksanaan peraturan keluarga, Orang tua kurang melakukan evaluasi dan kontrol terhadap perilaku anak. Orangtua pun cenderung tidak konsisten dengan peraturan yang diterapkan, mudah luluh apabila anak menunjukkan senjata yang jadi andalannya untuk meluluhkan keputusan orang tuanya Bahkan Orang tua tidak menuntut atau meminta anak untuk menunjukkan prestasi sesuai usia perkembangannya.
Orangtua cenderung mengambil alih tanggungjawab dan permasalahan anak, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang ketergantungan pada oranglain dan menyalahkan factor luar atas apa yang terjadi pada dirinya. Apa dampak dari jenis pengasuhan permissive terhadap tumbuh kembangnya kepribadian Anak, tentu saja anak akan Anak akan memiliki daya kontrol diri yang rendah, kurang bertanggung jawab, tidak terampil mengatasi masalah, dan mudah frustasi. Di sisi lain Anak juga kurang mampu atau terampil dalam mengembangkan keingintahuannya apalagi memenuhi keingintahuan yang ada. Bahkan Anak cenderung impulsif dan agresif, sehingga bermasalah dengan pergaulan sosialnya yang menyebabkan kurang percaya diri. Bahkan Anak menunjukkan tingkat perkembangan yang tidak matang sesuai usianya.
Ternyata bila kita lihat gaya pengasuhan yang diterapkan oleh para strawberry parents mirip dengan gaya pengasuhan permisif ini. Dilansir dari kelaspintar.id gaya pengasuhan strawberry parents yang kemudian menghasilkan generasi strawberry adalah seringkali memberikan semua keinginan anak tanpa batas.
Gaya pengasuhan primisif bisa dilihat dari contoh kasus berikut : Seorang anak pergi ke sebuah supermarket bersama ibunya, sebelum pergi sang Ibu berpesan untuk tidak meminta apapun di sana bila anak ingin ikut pergi bersamanya, Anak pun menyetujuinya. Dan pergilah mereka ke supermarket tersebut. Namun kenyataannya saat di supermarket anak melihat coklat dengan harga mahal yang dia inginkan, tentu saja sang ibu tidak memiliki uang untuk membayar coklat tersebut dan mencoba membujuk dengan coklat yang lebih murah, namun anak malah menangis bahkan sampai meraung-raung yang membuat ibu merasa malu karena para pengunjung terlihat merasa terganggu dengan tingkah anaknya terutama kasir karena membuat antrian semakin Panjang. Akhirnya dengan berat hati sang ibu pun membelikan seraya menggerutu “ Nih… kan tadi sudah dibilangin ade boleh ikut ke supermarket tapi tidak jajan, huh….bikin malu saja….” .
Dari contoh kejadian diatas terlihat bagaimana sikap Anak yang memaksakan kehendaknya. Dan ketika keinginannya tidak dikabulkan dia mengeluarkan senjata rengekan, bila tidak mempan, dia pun mengeluarkan jurus terakhir yaitu tantrum atau mengamuk. Sedangkan sang Ibu yang mengambil perjanjian dengan anak justru bersikap inkonsisten dengan mengabulkan permintaan anak karena tidak kuat menghadapi tantrum anak dan malu kepada para pembelanja yang lainnya. Sikap ibu dalam gaya pengasuhan ini dinamakan sebagai gaya pengasuhan Permisif.
Ke dua, Gaya pengasuhan otoriter
Orang tua melakukan kontrol yang ketat terhadap anak yang didasarkan pada nilai-nilai yang dipercayai kebenarannya. Bila seperti ini keadaanya Anak akan mengembangkan sikap sebagai pengekor, selalu tergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan, dan tidak memiliki pendirian pribadi. Kemudian selanjutnya ciri dari pengasuhan otoriter ini, Anak tidak dilibatkan dalam membuat peraturan serta harus disiplin dan patuh pada orang tua. Bila seperti inii maka Anak sulit menangkap makna dan hakikat dari setiap fenomena hidup, kurang fokus terhadap aktivitas yang dikerjakan, dan seringkali kehilangan arah yang akan dituju.
Orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan ini biasanya ditandai dengan kalimat-kalimat yang sering digunakan yaitu “Pokoknya” “Pokoke” “Tidak ada tapi….” “Kalau kamu tidak nurut, maka….bla…bla”. Orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter suasana rumahnya tegang dan tidak ada kehangatan akibatnya Anak tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dipenuhi ketakutan berbuat salah, dan cenderung sulit mempercayai orang-orang disekitarnya. Sikap orang tua kaku dan banyak menuntut terhadap anak Akumulasi dari karakteristik negatif tersebut menyebabkan anak memiliki kecenderungan untuk agresif dan mempunyai tingkah laku menyimpang.
Siapa diantara Anda yang pernah melihat film berjudul “I Not Stupid Too2”?
Film tersebut adalah film Singapura tahun 2006 dan merupakan film yang bergenre komedi dan keluarga yang menggambarkan kehidupan nyata. Film ini menggambarkan pola asuh pendidikan orang tua kepada anak-anaknya dengan menggunakan gaya pengasuhan otoriter . Anak-anak harus selalu mendengarkan apa yang diperintahkan orang tua dan anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Mereka beranggapan bahwa orang tua selalu benar dan anak selalu salah. Dibintangi oleh 3 aktor anak berusia 8-15 tahun, film ini begitu menyentuh dan tergambar nyata betapa buruknya gaya pengasuhan anak di dalam masyarakat kita. Film ini bisa dijadikan contoh untuk para orang tua dan pendidik di sekolah dalam memahami seorang anak.
Ke tiga, gaya pengasuhan Demokratis
Orang tua memperlakukan anak secara unik, penuh kehangatan, dan membangun rasa percaya diri. Dampaknya, Anak akan mengembangkan rasa percaya diri, kontrol emosi diri yang baik, selalu ingin tahu, menggali hal-hal yang dapat memperluas wawasan dan kematangan pribadinya. Anak terlibat dalam membuat peraturan dan mengambil keputusan yang menyangkut dirinya tapi fleksibel atau tidak kaku Anak mampu menemukan arah dan tujuan dari tugas-tugas perkembangannya
Orang tua memberi perhatian pada kepatuhan anak serta memberi penjelasan yang dapat dipahami oleh anak yang pada akhirnya Anak mengembangkan sikap bertanggung jawab dan percaya terhadap kemampuan diri sendiri. Orangtua membangun harapan yang sesuai dengan perkembangan kemampuan dan kebutuhan anak sehingga anak lebih mampu menghargai kemampuan dirinya sendiri dan tidak pernah putus asa dengan kehidupannya serta mau bekerja keras untuk mencapainya.
Walaupun generasi strawberry dalam pengasuhannya sangat dipengaruhi oleh gaya pengasuhan permisife dan otoriter, namun Strawberry parents dalam hal ini bisa memaksimalkan ke tiga gaya pengasuhan sesuai dengan situasi dan kondisi.
Kapan saatnya harus berkap permissive, otoriter ataupun demokratis. Sehingga perbaikan pola asuh pada gen-Z dengan segala potensi yang dimikinya dapat dikembangkan dan kebiasaan negatifnya dapat diminamilisiri sehingga mareka tidak lagi menjadi generasi strawberry yang mudah rapuh.
Saat ini upaya peningkatan kapasitas keluarga dalam keluarga sudah banyak dilakukan oleh berbagai komunitas termasuk salahsatunya “Penggiat keluarga (GiGa)” yang diinisiasi oleh guru besar ketahanan keluarga dari IPB, Prof.Dr.Euis Sunarti. Pemerintah sendiri melalui KemenPPPA melakukan upaya Menyusun “Pedoman Penyelenggara Pengasuhan dalam Keluarga” mengawali dengan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Pedoman Pengasuhan dalam Keluarga. Penyusunan pedoman ini merupakan salah satu upaya untuk menjalankan mandat Kemen PPPA dalam meningkatkan kualitas keluarga dan juga meningkatkan peran ibu dan keluarga dalam pengasuhan/pendidikan sesuai arahan Presiden RI.
Permasalahan pengasuhan dalam keluarga secara regulasi kebijakan masih belum diatur secara programatik dalam mendukung keluarga melalui dukungan keluarga, pemeliharaan keluarga, dan menjaga keterpisahan anak dengan orang tua.
Setelah pertemuan ini akan diadakan sesi diskusi dengan peserta dari Kementerian/Lembaga, Lembaga Masyarakat, dan Lembaga Profesi. Semoga pengasuhan anak dalam keluarga di Indonesia semakin baik dan melahirkan generasi-generasi unggul di masa mendatang. Menjadikan mereka generasi strawberry yang kreatif, cemerlang, banyak ide namun Tangguh dan tidak mudah rapuh.
Semoga.
Referensi :
https://www.kemenpppa.go.id/page/view/NTE3Nw==Siaran Pers Nomor: B-125/SETMEN/HM.02.04/05/2024
Online: http://journal.univetbantara.ac.id/index.php/jp 237 DOI: https://doi.org/10.32585/jp.v31i2.2485 Strawberry Generation: Dilematis Keterampilan Mendidik Generasi Masa Kini Syifa Aulia Meila Hapsari1 , Tati Meilani2 , dan Zachrah Niken Nabillah
Modul Ketahanan Keluarga Jawa Barat 2014,, Prof.Euis Sunarti
Strawberry Generation – Rhenad Kasali, Jakarta, Mizan


Leave a Reply