Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Rina Fatimah

Teknologi di masa kini berkembang dengan pesat sehingga membawa pengaruh besar bagi kehidupan manusia terutama perkembangan teknologi finansial yakni pinjaman online (pinjol). Pinjol menjadi salah satu solusi cepat untuk memenuhi berbagai kebutuhan finansial. Hanya beberapa klik, dana bisa langsung tersedia untuk membantu keluarga dalam menghadapi berbagai situasi mendesak seperti biaya pendidikan anak hingga renovasi rumah. Namun, dibalik kemudahan pencairan dana pinjaman, terdapat ancaman yang tidak bisa dianggap sepele. Resiko finansial yang berpotensi memiskinkan keluarga Indonesia.

Jumlah penyaluran pinjol di Indonesia terus mengalami peningkatan. Mengutip laporan databoks ada 10 penyebab masyarakat terjerat pinjol dengan lima teratas diantaranya (1) membayar hutang lain, (2) latar belakang ekonomi menengah ke bawah, (3) dana cair lebih cepat, (4) memenuhi kebutuhan gaya hidup, (5) kebutuhan mendesak. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nilai penyaluran pinjol di Indonesia mencapai Rp 22,7 triliun per Maret 2024. Nominal tersebut tumbuh 8,89 persen bulan sebelumnya yang sebesar Rp 20,90 triliun. Jika diakumulasi penyaluran pinjol secara nasional dari sejak berdiri sudah menembus lebih dari Rp 170 triliun.  

Pinjaman online adalah fasilitas peminjaman uang yang disediakan oleh lembaga keuangan dan terintegrasi dengan teknologi informasi, memungkinkan proses pengajuan, persetujuan, hingga pencairan dana dilakukan secara daring atau melalui konfirmasi SMS dan/atau telepon. Untuk masyarakat berpendapatan rendah, pinjaman online seringkali dianggap sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun, banyak yang tidak mempertimbangkan potensi dampak negatif dari pinjaman online, terutama dari penyedia yang tidak terdaftar secara resmi. Masalah muncul ketika konsumen tidak mampu membayar tagihan pada saat jatuh tempo, yang kemudian penagihannya dialihkan kepada pihak ketiga, yaitu debt collector.

Walaupun pinjaman online menawarkan akses yang mudah, dampak serius dapat timbul akibat penagihan yang dilakukan. Dalam beberapa kasus, penagihan tersebut menyebabkan trauma, stres, depresi, gangguan konsentrasi dalam bekerja, bahkan kehilangan pekerjaan. Kasus yang paling ekstrem menunjukkan bahwa jeratan pinjaman online dapat mengakibatkan tragedi bunuh diri dalam sebuah keluarga. Menurut laporan dari Center for Financial and Digital Literacy, ada 51 kasus bunuh diri yang terkait dengan pinjaman online, termasuk lima kasus di mana anak-anak di bawah usia lima tahun dibunuh oleh orangtua mereka sebelum orangtua tersebut akhirnya bunuh diri. Jumlah masyarakat yang terjebak dalam utang online terus meningkat, dengan data dari katadata.co.id menunjukkan kredit macet dari pinjaman online mencapai Rp 1,83 triliun per Maret. Bunuh diri menjadi pilihan ekstrem bagi mereka yang merasa terjebak dalam beban utang online.

Keluarga Terperangkap Pinjol

Menurut laporan OJK, ibu rumah tangga (IRT) merupakan salah satu korban jebakan pinjaman online dan penipuan uang. IRT kerap menjadi korban pinjol karena rendahnya keterampilan dalam mengelola keuangan keluarga. Terkadang, IRT dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari atau membiayai keperluan keluarga cenderung memilih produk keuangan yang tidak tepat dan beresiko tinggi.

IRT masuk dalam kelompok rentan terjebak pinjol illegal bersama dengan guru, korban pemutusan hubungan kerja (PHK), dan pelajar. Menurut Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen (PEPK) OJK, ada dua faktor utama IRT rentan terjebak pinjol yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri sendiri karena perilaku belanja konsumtif. Faktor eksternal karena dorongan dari luar seperti diminta oleh kerabat yang membutuhkan uang untuk mengambil pinjaman. Apalagi yang memintanya adalah orang terdekat seperti orangtua atau pasangan sendiri, tentunya akan sulit untuk menolak. Parahnya, permintaan seperti ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja. 

Menurut Wahyu Kustiningsih, Dosen Sosiologi Fisipol UGM, akibat COVID-19, para suami mengalami penurunan pendapatan, dan beberapa di antaranya bahkan terkena PHK. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap tinggi dan bahkan cenderung meningkat, menciptakan tekanan ekonomi yang besar. Dalam situasi seperti ini, banyak ibu rumah tangga (IRT) merasa terdesak untuk mencari solusi cepat, yang sering kali berujung pada pengambilan pinjaman online sebagai jalan pintas untuk menyambung hidup. Keputusan ini, meskipun tampak menguntungkan dalam jangka pendek, dapat berisiko menjerumuskan mereka ke dalam utang yang semakin membebani. Akibatnya, banyak keluarga harus menghadapi bukan hanya masalah finansial, tetapi juga dampak emosional yang signifikan, seperti stres dan ketegangan dalam hubungan keluarga. Penting bagi masyarakat untuk menyadari bahaya pinjol dan mencari alternatif yang lebih aman serta berkelanjutan dalam mengatasi kesulitan ekonomi.

Keterampilan Manajemen Keuangan Keluarga 

Kontribusi wanita dalam perekonomian keluarga, selain dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan, juga sangat penting dalam melakukan manajemen keuangan yang baik untuk mencapai tujuan keuangan keluarga. Menurut Garman & Forgue (2000) manajemen keuangan merupakan serangkaian tugas dalam memaksimalkan perolehan bunga dan meminimalisir biaya, serta memastikan ketersediaan dana untuk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran rumah tangga, kondisi darurat, tabungan maupun kesempatan untuk investasi. Manajemen keuangan keluarga adalah mengelola atau mengatur keuangan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Manajemen keuangan dapat diawali dengan perencanaan keuangan dalam satu bulan. Proses ini dimulai dengan pencatatan semua sumber pendapatan yang diterima dalam sebulan, termasuk gaji, bonus, dan pendapatan sampingan. Setelah pendapatan teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah mencatat semua pengeluaran yang akan terjadi, dibagi menjadi kategori seperti pengeluaran tetap (cicilan, tagihan) dan pengeluaran variabel (belanja, hiburan). Penting untuk menetapkan batas untuk setiap kategori pengeluaran agar tidak melebihi total pendapatan. Prioritaskan pengeluaran berdasarkan kebutuhan, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi sebelum mengalokasikan dana untuk pengeluaran yang lebih fleksibel. Selama bulan berjalan, catat setiap pengeluaran dan bandingkan dengan anggaran yang telah disusun untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap rencana. Di akhir bulan, lakukan evaluasi terhadap anggaran yang dibuat dan sesuaikan untuk bulan berikutnya jika diperlukan. Dengan proses ini, keluarga dapat mengelola keuangan dengan lebih baik, menghindari utang yang tidak perlu, dan mencapai tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan cara ini, mereka bisa menciptakan anggaran yang realistis dan memprioritaskan pengeluaran yang esensial.

Berdasarkan hasil penelitian Hakim, Sunarti, dan Herawati (2014) manajemen keuangan yang semakin baik berhubungan signifikan dengan semakin puasnya istri terhadap kondisi keuangannya. Manajemen keuangan dan pendidikan istri memiliki pengaruh yang positif terhadap kepuasan keuangan istri. Dengan demikian, peningkatan kepuasan keuangan istri akan sejalan dengan peningkatan manajemen keuangan yang dilakukan istri dan tingkat pendidikan istri


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *