Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Oleh Napisah Tanfidiah

Permulaan yang baik untuk membangun peradaban yaitu, bermula dari sebuah keluarga. Untuk membangun bangsa pun bermula dari level terkecil yaitu keluarga, disini peranan keluarga sangatlah penting karena keluarga adalah tempat dimana pondasi nilai-nilai agama diajarkan oleh kedua orang tuanya dan anggota keluarga lainnya kepada seorang anak. Dalam hal perencanaan sebuah keluarga yang baik didalam nya terdapat visi misi yang tidak hanya sekedar merencanakan kehidupan dunia, mesti menanamkan pola atau konsep keluarga yang berorientasi akhirat. Maka dari itu, objek didalam nya pun mesti dibekali dengan ilmu, terutama peranan dari seorang ibu.  

Banyak dikatakan Al-Ummu Madrasatul Uulaa artinya ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya dalam syair Arab: “Bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.”

Adapun peta pendidikan keluarga dalam membangun peradaban emas diantaranya, yaitu :

  1. Kunci sebuah peradaban keluarga adalah seorang ibu

Menjadi ibu bukan lah perkara yang mudah, bahkan banyak pula yang merasa gagal karena begitu berat menjalaninya. Menjadi ibu tidak ada sekolah nya kita langsung disebut “ibu” begitu selesai melahirkan seorang bayi ke dunia tanpa ditanya terlebih dahulu apakah sudah siap atau belum. Namun, bukan berarti mendidik anak cukup mengalir begitu saja tanpa adanya bekal ilmu. Mesti belajar dan mendidik anak sebaik mungkin, rancang dengan pendidikan terbaik jadilah role model bagi keluarga jadi lah pasangan yang menyejukkan hati wujudkan keluarga yang dirindukan surga mencetak generasi shalih dan shalihah. 

Tujuan mendidik sejatinya bukan hanya tentang ilmu, melainkan perihal cinta yang tersirat di dalamnya. Bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pada anak tetapi membangun pondasi iman, cinta atau bonding dalam keluarga menyatukan visi misi antara suami istri dalam mendidik anak-anak sebagai generasi masa depan keluarga. Belajar menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sebagai pribadi yang unik. Seorang ibu belajar layaknya detektif yang harus pandai membaca dan mengamati masing-masing anggota keluarga nya, belajar menjadi istri dan ibu yang Qurrota a’yun untuk keluarga.

2. Menanam adab bukan mengajar adab

Sekedar memiliki banyak pengetahuan tentang adab, tidak serta merta menjadikan seseorang itu beradab. Oleh sebab itu, sangat berbeda antara mengajarkan tentang adab dengan menanam adab, sebagaimana berbeda nya antara pengetahuan dan pengamalan adab. 

Tidak jarang problem paling mendasar dalam pendidikan adab adalah adab kita sendiri, termasuk adab saat membahas adab maupun adab saat mengajarkan adab kepada anak, kita menyangka mengajarkan adab, padahal yang terjadi hanya mengajari anak tentang adab.

3. Sayang bumi sayang anak

Sebagai amanahnya mesti kita menjaga dan merawat bumi serta berkontribusi nyata atas keberlangsungannya. Untuk kita bisa bertahan hidup di kondisi yang nyaman bersih dan indah saat ini dan untuk anak cucu kita nanti. 

Sebagai contoh penerapan dari hal tersebut melihat keadaan dan kenyataan saat ini tidak sedikit ibu-ibu yang menggunakan pemakaian popok terhadap anak nya, bahkan diusia yang masih sangat kecil, karena memang ibu-ibu di zaman sekarang memilih jalur instan tanpa memikirkan kan kesehatan dan kenyamanan anak dan lingkungan sekitar.  

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, saya pernah memerhatikan Umi dalam pola penanaman pendidikan terhadap  kucing kesayangannya ketika ingin pup. Kucing Umi ini sejenis Kucing Anggora dimana makanan yang dimakan tidak sembarangan, kucing ini hanya diperbolehkan makan whiskas (makanan khusus kucing) dengan hal itu, kucing akan mudah diarahkan terutama ketika kucing itu ingin pup. Dengan terus menerus dilatih dan disediakan tempat pup kucing tersebut lama kelamaan dia mengerti harus kemana ia ketika ingin pup. Dari sini juga sudah bisa di simpulkan kucing saja bisa dilatih dan diarahkan, sehingga ia mengetahui kemana ia pergi ketika ingin pup yang mana notabe nya adalah hewan apalagi manusia. Mengapa seorang ibu tidak mengambil jalur toilet training?

Toilet training meski nampak sepele sebenarnya adalah di antara metode mendidik anak. Mendidik anak dengan toilet training berarti orang tua sedang melatih kemandirian sang anak. Sang anak mandiri ia akan percaya diri sebab ia belajar merasakan sensasi lembab atau basah, kotor, bau, bahkan menjijikan, anak akan belajar berbagi ekspresi. 

Lebih dari itu pula, mendidik toilet training anak inilah upaya menjaga lingkungan dan menerapkan diantara tahapan zero waste atau gaya hidup minim sampah yaitu, reduce atau mengurangi. Dalam hal ini mengutamakan dengan mengurangi sampah popok agar tidak menjadi penyumbang beban-beban bumi yang membutuhkan waktu sekitar 400 tahun untuk mengurai. Tentu butuh proses dalam menerapkan hal ini tidak mudah bagi seorang ibu dalam menerapkan step by step tetapi dengan mulai mengubah mindset akan terwujud nya “sayang bumi sayang anak.”

4. Menciptakan surga di dunia sebelum surga yang sesungguhnya

Konsep ini begitu jarang dilakukan oleh beberapa keluarga tetapi sudah banyak dibuktikan dengan fakta dilapangan, sehingga dapat meraih kebahagiaan keluarga yang sesungguhnya. Namun, dibalik konsep ini tentu nya tidak semudah membalikkan telapak tangan ada proses panjang di dalamnya. keluarga yang dilandasi dengan suasana penuh kasih sayang, saling menghargai, saling mencintai itu adalah salah satu bentuk keindahan yang dikaitkan dengan surga. 

Dalam hal ini keindahan surga diciptakan bukan dari banyak nya harta atau pangkat dan jabatan melainkan isi dari keluarga tersebut lah yang menjadikan suasana layaknya  surga. Semakin luas nya pengetahuan terhadap apa yang diajarkan Rasulullah dalam pola rumah tangga, dan mencoba menerapkan di dalam keluarga maka akan terciptanya keluarga peradaban yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.  

Mencoba memahami dan menerapkan makna “Baitil Jannati” yaitu, menjadikan rumah layaknya surga. Ketika belajar mendidik anak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi menjadikan anak Hafidz Qur’an sejak balita, bukan berarti kita merampas masa bermainnya. Tetapi, kita kembalikan kepada fitrah anak sebelum usia tujuh tahun, seorang anak belajar bahagia ketika di rumah bersama keluarganya, karena proses penanaman iman dan cinta (bonding) bersama keluarga nya. Keluarga inti sebagai teman terdekatnya untuk belajar bersosialisasi pertama, mengenal satu sama lain untuk menyatukan visi dan misi keluarga, tidak sedikit kasus yang terjadi bermula dari keluarga yang tidak bahagia.

Membangun peradaban emas bermula dari sebuah keluarga. Peran orang tua tentunya menjadi titik penentu arah yang menciptakan, dan merealisasikan visi misi dan tujuan keluarga tersebut. Proses nya tidak mudah ada beberapa konsep yang mesti ditempuh untuk mewujudkan nya diantaranya: 

1. Kunci sebuah peradaban keluarga adalah seorang ibu 
2. Menanam adab bukan mengajar adab
3. Sayang bumi saya anak
4. Menciptakan surga di dunia sebelum surga yang sesungguhnya

Perlu diingat sebaik apapun konsep yang dibangun hanya dengan ridho dan pertolongan-Nya, kita bisa mampu menjalankan sebaik-baiknya peran sebagai orang tua dalam menciptakan keluarga yang bahagia.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *