Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Persiapan Calon Pengantin untuk Mencegah Stunting Berbasiskan Psikologi (SIAP KENSISGI): Sebuah Program Inovatif Membangun Keluarga Indonesia Sehat

Oleh Wafi Lulu Sawamah

Anak adalah anugerah terindah yang menjadi dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Setiap anak yang terlahir di dunia ini akan menjadi penerus bangsa pemegang serahan keberlanjutan akan keberhasilan suatu negara. Seorang anak tidak dapat memilih untuk dilahirkan pada keluarga seperti apa, tetapi setiap keluarga memiliki berbagai pilihan cara untuk mendidik anak hingga tumbuh menjadi seorang yang berguna.  

Seorang anak tidak hanya berhak atas pemenuhan sandang, pangan, dan papannya. Anak yang dilahirkan berhak atas kasih sayang, pendidikan, serta Kesehatan yang berkualitas. Kesehatan merupakan aspek penting dalam penentu kualitas tumbuh kembang anak, serta pendidikan merupakan cahaya penentu ke arah manakan seorang anak akan menemui jalan kehidupannya. Oleh sebab itu, orang tua yang cerdas dan bertanggung jawab hendaknya memperhatikan serta mendahulukan kualitas Kesehatan anak di atas kepentingan yang lainnya. Di era digital seperti saat ini, isu terkait Kesehatan anak masih menjadi permasalahan serius. Beberapa masalah pada Kesehatan anak seperti kurang gizi, kelebihan gizi, penyakit infeksi, gangguan mental, perundungan hingga kekerasan pada anak. Bahkan secara global, agenda terkait peningkatan kualitas Kesehatan anak ini sudah tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Salah satu permasalahan Kesehatan pada anak yang masih menjadi fokus global hingga saat ini adalah masalah stunting.

Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu Panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Berdasarkan laporan World Health Organization pada tahun 2022 prevalensi stunting di seluruh dunia sebesar 22 persen atau sebanyak 149,2. Jika melihat di Indonesia menurut Kemenkes pada tahun 2023, prevalensi stunting sekitar 21,5 persen pada anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami penurunan hanya 0,1 persen dari tahun sebelumnya sebesar 21,6 persen dimana prevalensi tertinggi terdapat di Papua Tengah sebesar 39,4 persen dan terendah di Bali sebesar 7,2 persen. Jika dibandingkan prevalensi secara global maupun prevalensi di Asia Tenggara prevalensi stunting di Indonesia tergolong tinggi dengan menempati peringkat ke-27. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan stunting di Indonesia masih menjadi permasalahan yang serius yang perlu segera dicarikan solusinya.  

Jika diteliti lebih mendalam, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada anak. Jika dilihat dari faktor gizi, asupan protein yang kurang saat kehamilan serta kekurangan asupan zat besi dan seng menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak. Kurangnya pemberian ASI eksklusif juga menjadi penyebab terjadinya stunting. Jika dilihat dari faktor sosiodemografi, rendahnya pengetahuan ibu terhadap gizi, tingkat pendidikan ibu yang rendah, serta rendahnya pendapatan keluarga menjadi faktor risiko terjadinya stunting. Berdasarkan hal tersebut, permasalahan stunting pada anak menjadi permasalahan yang kompleks. Oleh sebab itu, upaya pencegahan stunting hendaknya dilakukan secara komprehensif mulai dari sebelum kehamilan, saat hamil, hingga saat anak lahir. Saat ini pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan stunting. Mulai dari suplementasi zat besi pada remaja putri, program ASI eksklusif, hingga suplementasi makanan pendamping ASI (MPASI). Namun kenyataanya prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi. Mengatasi permasalahan stunting secara komprehensif tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk ikut terlibat di dalam gerakan pencegahan stunting. Salah satu pihak yang potensial untuk dilibatkan dalam program ini adalah masyarakat, yaitu lebih menyasar pada calon pengantin.

Calon pengantin adalah insan yang sama-sama telah membulatkan tekad dengan mempunyai arah pandang yang sama terdiri dari seorang pria dan seorang wanita yang ingin melakukan pernikahan. Dipilihnya calon pengantin sebagai sasaran program ini karena calon pengantin merupakan awal untuk mewujudkan keluarga sehat yang menghasilkan generasi sehat dan berkualitas. Membentuk suatu keluarga tidak hanya memerlukan kesiapan dari aspek fisik, tetapi juga perlu kesiapan mental, sosial, hingga ekonomi. Banyak pasangan yang nekat menikah padahal belum siap, pada akhirnya berujung pada perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, hingga penelantaran anak. Apabila calon pengantin sudah siap dari segala aspek, secara tidak langsung risiko stunting yang disebabkan oleh faktor sosiodemografi dapat dikurangi. Salah satu program inovatif yang dapat dijadikan pendekatan untuk menarik minat calon pengantin adalah “Siap Kensisgi” Persiapan calon pengantin untuk mencegah stunting berbasis psikologi. “Siap Kensisgi” Persiapan calon pengantin untuk mencegah stunting berbasis psikologi adalah program inovatif persiapan calon pengantin untuk mencegah stunting berbasiskan pendekatan psikologi, “Siap Kensisgi” adalah salah satu metode edukasi baru yang provokatif dan komplek untuk mencapai perubahan kebiasaan yang baik. Pada program “Siap Kensisgi” ini bertujuan untuk memberikan edukasi pada calon pengantin terkait dengan stunting dan cara pencegahannya. Hal yang menjadi fokus pada program ini adalah peran aktif serta keterlibatan dari calon pengantin pria dalam persiapan kehamilan, saat kehamilan, hingga proses pasca kelahiran anak. Selain itu, pesan Kesehatan melalui program ini adalah bahwa kehamilan dan mengasuh anak tidak hanya menjadi tanggung jawab Perempuan (sebagai ibu), tetapi juga menjadi tanggung jawab pria (sebagai ayah).

Teknis pelaksanaan program “Siap Kensisgi” ini terdiri dari beberapa kegiatan. Setiap pasangan calon pengantin yang menjadi peserta pada program ini akan diberikan informasi terkait dengan; a) peran suami dan istri dalam keluarga, b) program persiapan kehamilan, masa kehamilan hingga pasca melahirkan, c) stunting dan cara pencegahannya, d) cara mengolah bahan pangan yang tepat, e) program gizi seimbang, f) suami SIAGA (Siap Antar Jaga), g) pola asuh dan tumbuh kembang anak, h) risiko penyakit pada anak serta pencegahannya, dan  i) pembiasaan menjaga kebersihan keluarga. Pemberian materi ini akan dikemas lebih menarik melalui sesi diskusi antara calon pengantin (pria dan wanita), sesi konseling dengan dokter, atau bidan, yang berperan aktif dalam menjalankan proses edukasi tersebut yang dapat berupa video, penjelasan secara mandiri oleh dokter atau bidan terkait. Program ini dapat dilaksanakan satu kali dalam seminggu yang difasilitasi oleh puskesmas maupun posyandu di masing-masing wilayah.

Program “Siap Kensisgi” memiliki banyak manfaat selain memberikan pengetahuan terkait dengan beberapa topik Kesehatan, program ini dapat menumbuhkan kesadaran serta peran aktif dari calon pengantin pria bahwa membangun suatu keluarga memerlukan persiapan yang matang. Hal ini dapat dijadikan solusi untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi di masyarakat saat ini,  yaitu rendahnya peran pria (suami) dalam peningkatan kualitas Kesehatan ibu dan anak. Bekal pengetahuan sejak dini pada pria sebagai calon ayah dari anak yang akan lahir dapat meringankan beban dari wanita sebagai calon ibu. Sesi diskusi antara peserta yang difasilitasi oleh tenaga Kesehatan profesional juga menekankan obrolan sehat dan bermanfaat. Kehadiran tenaga kesehatan profesional sebagai fasilitator juga dalam program ini berfungsi untuk meluruskan mitos dan fakta terkait kehamilan serta kehidupan berkeluarga, sehingga setiap calon pengantin dibekali dengan informasi yang valid. Hal ini dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi permasalahan stunting.

Program Kesehatan yang efektif adalah program yang dapat diterima serta dapat berjalan secara berkesinambungan. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk menciptakan program “Siap Kensisgi”. Dilihat dalam kemudahan praktiknya, program ini akan dilengkapi oleh modul dan alat peraga yang bisa digunakan di fasilitas kesehatan yang sudah lengkap (Puskesmas,  Rumah Sakit, Klinik Swasta, dll) maupun di fasilitas Kesehatan yang kurang lengkap (posyandu). Dilihat dari analisis manfaat, program “Siap Kensisgi” ini potensial untuk dikembangkan pada skala kecamatan (puskesmas) bahkan skala nasional. Oleh sebab itu perlu dukungan pemerintah dalam hal pembiayaan, pelatihan petugas, maupun pendampingan terkait lainnya seperti LSM dan Swasta, juga memungkinkan sehingga program ini dapat berjalan dengan efektif dan berkesinambungan. Hal ini dikarenakan masalah stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua pihak.  

Program “Siap Kensisgi” memiliki banyak manfaat serta potensial untuk diimplementasikan dalam rangka mempersiapkan calon pengantin untuk mencegah stunting. Pendekatan psikologis yang digunakan dalam program ini dapat mempercepat perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Sehingga tujuan dari promosi kesehatan untuk mencegah stunting dapat dicapai. Kerja sama dari berbagai pihak, terutama pemerintah sangat diperlukan agar program ini dapat berjalan dengan efektif dan berkesinambungan. Apabila program ini dapat berjalan dengan baik, masalah stunting yang begitu kompleks niscaya perlahan dapat teratasi untuk generasi masa depan Indonesia sehat.

“SIAP KENSISGI, SIAP TUMBUHKAN AKSI NYATA LAWAN STUNTING”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *