Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Urgensi Kuantitas dan Kualitas Interaksi Keluarga dalam Membangun Kesehatan Mental Bangsa

Oleh Eneng Shopiyah Abdillah

Penggunaan sosial media yang masif berdampak pada penyebaran berita dengan sangat cepat. Akhir-akhir ini, berbagai channel berita dan fyp social media seringkali diramaikan dengan berbagai kasus yang memprihatinkan dan tak bermoral seperti pembunuhan, bunuh diri, pemerkosaan, penganiayaan dan lain-lain. Pelaku dari perbuatan-perbuatan tersebut pun seringkali membuat kita menggelengkan kepala karena dilakukan orang-orang terdekat korban seperti istri, ibu, ayah, anak, paman, kakek, nenek, tetangga, atau pacar. Kondisi ini menunjukkan bahwa negara kita, Indonesia, sudah mengalami darurat kesehatan mental. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa mental memiliki makna yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.  Dapat juga dimaknai bahwa mental berhubungan dengan jiwa. Menurut World Health Organization, kesehatan mental adalah keadaan sejahtera mental yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitasnya. Jika kita analisis lebih dalam, dapat disimpulkan bahwa perilaku buruk (seperti membunuh, memperkosa, menganiaya, dan lainnya) yang kerap terjadi menunjukkan bahwa kesehatan mental warga Indonesia tidak baik-baik saja. Kesimpulan ini muncul karena hasil penyelidikan terhadap para pelaku menunjukkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh pelaku disebabkan karena mereka tidak bisa menangani tekanan hidup sehingga melampiaskannya kepada orang lain.

Hasil riset kesehatan dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2018 menyebutkan bahwa 1 dari 10 orang di Indonesia mengalami gangguan mental. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk berobat ketika mentalnya tidak sehat masih tergolong sangat rendah. Seseorang yang pergi ke psikolog atau psikiater untuk “berobat” juga seringkali mendapat stigma negatif dari masyarakat. Padahal gangguan pada mental atau jiwa sebenarnya sama halnya dengan gangguan pada fisik yang ketika sakit maka harus segera diobati agar penyakit tersebut tidak menjadi semakin parah dan menyebabkan penurunan produktivitas. Tantangan lain yang terjadi di Indonesia dalam menangani masalah mental adalah tingginya treatment gap berupa akses dan ketersediaan layanan konsultasi kejiwaan. Selain itu, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dalam memberikan layanan kejiwaan juga masih sangat terbatas. Berdasarkan data kementerian kesehatan, hingga tahun 2023, Indonesia baru memiliki 269 rumah sakit jejaring pengampuan kesehatan jiwa dengan 21 rumah sakit jiwa strata paripurna, 29 rumah sakit jiwa strata utama, dan 219 rumah sakit strata madya.

Jumlah penduduk yang banyak dan terbatasnya layanan kesehatan jiwa yang tersedia menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan mental. Oleh karena itu, keluarga sebagai mikro sistem dari individu memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga kesehatan mental melalui peningkatan kuantitas dan kualitas interaksi keluarga. Dalam rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga, interaksi keluarga didefinisikan sebagai aksi reaksi antar anggota keluarga dalam aktivitas keseharian, meliputi interaksi antara suami istri, orang tua dan anak, anak dan anak, serta interaksi lintas generasi dalam keluarga. Bentuk spesifik dari interaksi adalah komunikasi. Komunikasi keluarga merupakan “glue” yang menjaga struktur, tugas, fungsi, dan interaksi transaksional yang terjadi antar anggota keluarga. Kualitas interaksi merupakan indikasi dari kualitas hidup seseorang, dan interaksi yang baik akan tercipta ketika komunikasinya pun berlangsung baik.

Mental yang tidak sehat seringkali disebabkan karena seseorang terlalu banyak memendam emosi dan tidak mampu mengelola stres dengan baik sehingga lebih sering menyendiri bahkan dapat menyebabkan halusinasi. Penelitian yang dilakukan oleh Shoib et al. (2023) menjelaskan bahwa kesepian subjektif (perasaan sendirian) memiliki korelasi dengan perilaku bunuh diri. Perasaan merasa sendiri padahal tinggal dengan keluarga besar terjadi karena antar anggota keluarga tidak tercipta komunikasi yang hangat atau setiap anggota keluarga hanya sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak memperhatikan anggota keluarga yang lain. Kesepian yang dirasakan dapat mendorong seseorang untuk mengakhiri hidup karena menilai bahwa hidupnya tidak berarti dan tidak berharga.

Selain itu, kurangnya interaksi keluarga juga dapat memperkecil munculnya solusi dari masalah yang dihadapi karena sumber daya yang terlibat hanyalah isi pikiran dan diri sendiri. Padahal dalam menghadapi masalah tertentu, kita perlu melakukan diskusi dalam batasan wajar dengan pihak lain yang sudah berpengalaman agar kita dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Misalnya, ketika menghadapi omongan tetangga yang menyakitkan. Alih-alih membunuh tetangga karena emosi yang tidak terkendali, seseorang itu harusnya dapat menanyakan kepada orang tua atau pihak lain yang dipercaya bagaimana cara menghilangkan rasa kesal ketika mendengar pernyataan atau pertanyaan tetangga, atau bagaimana cara menyadarkan tetangga tersebut bahwa hal yang dilakukan tetangga tersebut sebenarnya menyakiti pihak lain.

Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si sebagai guru besar di bidang ketahanan keluarga IPB menyebutkan beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental keluarga yaitu menjadikan nilai-nilai agama sebagai panduan dan pedoman; tidak menerapkan filosofi hidup materialistis; mensyukuri apa yang dimiliki ditengah kondisi tidak ideal; selalu merasa cukup atau berusaha merasa cukup; belajar menerima masalah yang sulit diatasi; berpikir positif dan meyakini bahwa setiap kesulitan yang terjadi pasti ada hikmahnya; minta saran dari orang terpercaya untuk mengatasi masalah yang dihadapi; kelola diri dan aktif mencari solusi konstruktif; melakukan aktivitas fisik atau meditasi untuk mengelola emosi dan menjernihkan pikiran; melakukan hal-hal baru yang positif untuk meningkatkan kepercayaan diri; menyediakan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai; melibatkan diri dalam kegiatan sosial untuk membantu orang lain; menghindari cara-cara negatif untuk meredakan stres; bekerja dengan fokus pada output; dan mengelola waktu dengan lebih baik dan hidup lebih seimbang. Beberapa aktivitas yang melibatkan interaksi keluarga yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental diantaranya yaitu menanam dan berkebun, melakukan olahraga bersama, melakukan rekreasi keluarga, camping dan berpetualang di alam.

Sebagian besar waktu yang dihabiskan dalam keluarga seringkali berjalan seperti business as usual sehingga seringkali hal-hal yang telah dilalui menjadi tidak reflektif. Padahal interaksi keluarga merupakan proses yang berpengaruh terhadap kesejahteraan, karakter, dan keberhasilan hidup seseorang yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sistem sosial yang lebih luas. Interaksi melalui komunikasi terbuka akan mendorong keluarga untuk saling mengungkapkan perasaannya terhadap sesama anggota keluarga atau perasaannya terhadap perkataan dan perilaku pihak lain. Keterbukaan ini akan memperbesar peluang pengelolaan emosi yang baik sehingga mental individu akan menjadi lebih baik. Individu-individu dengan mental yang baik akan menciptakan atmosfir keluarga yang baik, dan keluarga-keluarga dengan mental yang baik akan melahirkan ekosistem bangsa dengan mental yang baik pula. Semoga berbagai kebijakan pemerintah tidak hanya berfokus pada program makro yang terlihat megah namun sulit diaplikasikan terutama pada masyarakat kelas menengah bawah, namun juga berfokus pada penguatan ketahanan keluarga sebagai micro system melalui peningkatan kuantitas dan kualitas interaksi keluarga agar tercipta keluarga dengan mental sehat dan bahagia.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *