Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Melemahnya Peran Ayah dan Meningkatnya Kejahatan Seksual terhadap Anak: Sebuah Analisa

Oleh: Ratu Ana Karlina

  1. Pendahuluan

Di era modern ini, kejahatan seksual terhadap anak terus meningkat dan menjadi isu yang sangat memprihatinkan di banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu faktor yang diyakini berkontribusi terhadap fenomena ini adalah melemahnya peran orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Beberapa riset menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, dan perkembangan teknologi berperan dalam mengubah dinamika hubungan antara orang tua dan anak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kerentanan anak terhadap bahaya yang bisa merusakkan masa depannya.

Ayah memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan psikologis dan emosional anak. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, melemahnya peran ayah dalam keluarga menjadi isu yang semakin mengemuka. Riset  yang dilakukan oleh tim IFI (Indonesian Family Institute) GiGa Indonesia tahun 2022 – 2023 tentang Persepsi Kualitas dan Kapasitas Laki-Laki dan Perempuan mengindikasikan adanya penurunan  peran laki-laki sebagai suami dan ayah, yang menguatkan adanya fenomena “Man as the second sex”.  Banyak penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang minim dalam kehidupan anak dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah sosial, termasuk meningkatnya kasus kejahatan seksual terhadap anak.

Artikel ini akan mengupas bagaimana melemahnya peran ayah dapat berdampak pada kerentanan anak terhadap kejahatan seksual, berdasarkan berbagai riset dan analisis yang tersedia.

  1. Peran Ayah dalam Membentuk Karakter Anak

Menurut Adriano Rusfi, tugas Ayahbunda adalah mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang aqil baligh (kematangan mental dan fisik). Ayah adalah pemeran utama dalam mendidik anak mencapai aqil (kematangan/kedewasaan mental), dan bunda pemeran utama dalam mengantarkan anak menuju baligh (kematangan fisik). Karena itu, bisa dikatakan bahwa bundalah yang bertanggung jawab ketika anaknya baligh terlalu cepat, dan menjadi tanggung jawab atau kesalahan ayah ketika anak mengalami aqil yang terlalu lambat, karena ayah adalah sosok yang bertanggung jawab bagi pendidikan akal dan karakter anak-anaknya.

Dalam Al-Quran hampir seluruh tokoh pendidikan anak yang dibicarakan adalah laki-laki. Sekitar delapan puluh lima persen ayat di dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang pendidikan anak, pelakunya adalah para ayah. Bahkan dalam ajaran Islam pun, sosok yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat tentang pendidikan anak-anaknya adalah para ayah, bukan para bunda.

Lebih lanjut, Adriano Rusfi mengingatkan bahwa pendidikan karakter dan kedewasaan itu memang sedikit banyak merupakan pendidikan yang keras. Sifat Ini membutuhkan ketegaan dan yang dapat berlaku tega adalah ayah dengan segala sifat dan gendernya. Bagaimanapun, kita tidak bisa meminta para bunda untuk berlaku tega kepada anak-anaknya, karena dialah yang melahirkan, mengasuh dan menyayangi anak- anaknya. Urusan tega adalah urusan sang ayah. Sang ayah adalah sang raja tega dan seorang bunda adalah sang pembasuh luka. Tanpa tega, tidak akan ada Pendidikan karekter yang mendewasakan. 

Ayah adalah pendidik ego dan indivualitas, yang menjadikan anak tumbuh memiliki jati diri yang kokoh, dan tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungannya.  Setelah itu barulah bunda mendidik sosiabilitas dan harmoni. Jadi setelah anak kokoh egonya, barulah ia dilatih untuk hidup bermasyarakat, bekerja sama, dan belajar untuk membina kehidupan yang harmonis.

Beberapa riset tentang peran ayah, sebagai berikut:

  • Menurut riset dari National Fatherhood Initiative (2022), ayah yang terlibat aktif dalam kehidupan anak mampu menciptakan rasa aman yang lebih kuat pada anak-anak mereka. Sebaliknya, anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung merasa kurang terlindungi dan lebih rentan terhadap ancaman dari luar, termasuk eksploitasi seksual.
  • Studi yang dilakukan oleh University of Pennsylvania (2021) menunjukkan bahwa anak yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ayah mereka cenderung lebih mampu mengontrol impuls dan membuat keputusan yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena ayah biasanya memainkan peran penting dalam mengajarkan disiplin dan batasan sosial.
  • Riset dari Harvard Graduate School of Education (2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan figur ayah yang kuat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang perilaku yang aman dan tidak aman, yang membuat mereka lebih mampu mengenali dan menghindari situasi yang berpotensi membahayakan.
  1. Meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak

Kekerasan terhadap anak masih menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian khusus, karena anak adalah generasi penerus bangsa. Sepanjang tahun 2023, angka kekerasan terhadap anak mengalami kenaikan tajam. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) Nahar menyatakan bahwa kenaikan ini angka kekerasan pada anak mencapai tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) yang digagas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), menyatakan bahwa kekerasan seksual berada pada urutan paling atas, sebanyak 11.016 kasus.

Kementerian PPPA melaporkan adanya 11.952 kasus kekerasan kerhadap anak yang terjadi sepanjang  tahun 2022. Mayoritasnya kekerasan seksual. Menurut Menteri Bintang, kasus kekerasan seksual pada anak ibarat fenomena gunung es. Ia menduga banyak kasus yang tak dilaporkan. Hal itu, menunjukkan permasalahan yang sebenarnya jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan. Terlebih, korban mengalami penderitaan fisik, mental, seksual, ekonomi, serta sosial yang berkepanjangan

  1. Hubungan Peran Ayah dengan Kerentanan Anak terhadap Kekerasan Seksual

Adanya fenomena “Man as the second sex”, melemahnya peran laki-laki sebagai suami dan ayah, akan berdampak pada pembentukan karakter anak.  sebuah studi, Gender-based violence and absent fathers: a scoping review protocol (2016), mengidentifikasi bahwa ayah yang tidak hadir berhubungan dengan risiko peningkatan perilaku seksual pada anak perempuan, termasuk risiko kehamilan remaja dan awalnya aktivitas seksual​, Selain itu, ketidakhadiran ayah juga berhubungan dengan pola kekerasan berbasis gender, di mana anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah cenderung menghadapi situasi yang meningkatkan kemungkinan menjadi korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual​

  1. Solusi dan Rekomendasi

Ayah adalah penanggung jawab utama pendidikan anak dalam keluarga. Melemahnya peran ayah, baik karena alasan ekonomi maupun sosial. akan berdampak pada melemahnya karakter anak yang dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap kejahatan seksual. Solusi dan rekomendasi dalam menghadapi masalah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Perlu upaya untuk menumbuhkan Kesadaran tentang pentingnya Peran Ayah dalam pendidikan anak. 

Kampanye kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran orangtua terutama ayah dalam pendidikan anak perlu digencarkan. Pembinaan Pra-Nikah perlu dilakukan secara serius untuk memberi pembekalan tentang membina keluarga yang berketahanan bagi para calon pengantin. Pos Yandu bisa difungsikan sebagai Pos Pelayanan Keluarga yang bukan hanya menangani anak dan ibu, tapi juga untuk para ayah. Rumah-rumah ibadah  perlu diberi sarana untuk melakukan penguatan peran keluarga dalam mendidik anak, berupa pengadaan materi khutbah untuk disampaikan kepada jemaahnya.

  1. Mendorong Keterlibatan Ayah dalam Pendidikan Seksual. 

 Ayah perlu dilibatkan dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak. Program seperti Fatherhood Engagement Program dapat membantu ayah lebih aktif dalam pendidikan anak dalam keluarga, juga memberikan edukasi tentang bahaya kejahatan seksual dan cara melindungi diri.

  1. Fleksibilitas Kerja untuk Ayah.

Perusahaan dapat memberikan kebijakan kerja yang lebih fleksibel untuk ayah, seperti cuti ayah yang lebih lama dan jam kerja yang fleksibel.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *