Selamat Datang !

Website Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Phubbing dalam Keluarga: Tantangan Interaksi di Era Digital

Oleh Nurmala Febrianti

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam dinamika keluarga. Kehadiran smartphone dan media sosial mempermudah individu dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari. Di Indonesia, penggunaan internet terus mengalami peningkatan dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Berdasarkan data APJII tahun 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 229 juta jiwa atau lebih dari 80% penduduk Indonesia. Tingginya penggunaan teknologi juga terlihat dari rata-rata waktu penggunaan internet dan media sosial masyarakat Indonesia yang mencapai 7 jam 42 menit per hari. Intensitas penggunaan teknologi tersebut menunjukkan bahwa media digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga sehari-hari.

Interaksi keluarga merupakan hubungan timbal balik antaranggota keluarga yang terbangun melalui komunikasi, perhatian, dan aktivitas bersama. Interaksi yang berkualitas berperan penting dalam menciptakan kebahagiaan, kepuasan, serta keharmonisan dalam keluarga. Menurut Sunarti (2021), interaksi keluarga mencakup interaksi suami-istri, interaksi orang tua-anak, interaksi antar saudara, dan interaksi antargenerasi. Interaksi keluarga yang berkualitas menjadi pondasi penting dalam membangun kedekatan emosional, memperkuat fungsi keluarga, serta menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian antaranggota keluarga (Sunarti 2021).

Perkembangan teknologi digital tidak hanya membawa berbagai kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam interaksi keluarga, salah satunya melalui fenomena phubbing. Phubbing merupakan perilaku mengabaikan orang lain karena lebih fokus pada penggunaan smartphone. Istilah ini berasal dari gabungan kata phone dan snubbing. Dalam konteks keluarga, phubbing sering kali muncul dalam aktivitas sehari-hari yang tampak sederhana, seperti saat makan bersama tetapi setiap anggota keluarga sibuk dengan gadget masing-masing, atau ketika percakapan dalam keluarga terganggu karena perhatian lebih tertuju pada layar ponsel dibanding lawan bicara.

Fenomena phubbing menjadi semakin relevan dibahas karena interaksi keluarga di era digital mengalami perubahan yang cukup signifikan. Sebelum perkembangan teknologi berlangsung secara masif, keluarga cenderung memiliki lebih banyak interaksi tatap muka melalui kegiatan bersama, seperti berbincang, bermain, atau berkumpul di ruang keluarga. Namun, perkembangan teknologi membuat pola komunikasi keluarga perlahan berubah. Kehadiran smartphone memungkinkan setiap anggota keluarga memiliki ruang digitalnya sendiri sehingga interaksi langsung menjadi semakin berkurang.

Perubahan tersebut mulai memengaruhi kualitas kebersamaan keluarga. Waktu berkumpul menjadi semakin terbatas karena perhatian anggota keluarga lebih banyak tertuju pada gadget dibanding interaksi langsung. Suasana rumah yang sebelumnya hangat melalui percakapan dan canda bersama perlahan berubah menjadi lebih sepi karena setiap anggota keluarga sibuk dengan perangkat digital masing-masing. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga memengaruhi kualitas ikatan emosional dalam keluarga.

Pada dasarnya, teknologi digital tidak selalu membawa dampak negatif. Teknologi dapat membantu keluarga tetap terhubung, terutama ketika berada dalam kondisi berjauhan. Selain itu, teknologi juga mendukung proses belajar, bekerja, dan memperoleh informasi secara lebih cepat. Namun, penggunaan teknologi yang tidak terkendali dapat memengaruhi kualitas interaksi dan kedekatan emosional antar anggota keluarga.

Phubbing dapat menjadi salah satu bentuk berkurangnya kualitas kehadiran dalam hubungan keluarga. Secara fisik, anggota keluarga mungkin berada di tempat yang sama, tetapi secara psikologis perhatian mereka teralihkan oleh perangkat digital. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan diabaikan, menurunkan kualitas interaksi, serta mengurangi kehangatan hubungan dalam keluarga. Dalam jangka panjang, komunikasi yang semakin pasif berpotensi menciptakan jarak emosional antar anggota keluarga. Selain itu, perilaku phubbing berkaitan dengan menurunnya kepuasan hubungan, meningkatnya rasa kesepian, serta munculnya konflik interpersonal dalam hubungan keluarga maupun pasangan.

Dampak perkembangan teknologi digital tidak hanya dirasakan dalam interaksi anggota keluarga, tetapi juga berdampak pada tumbuh kembang anak dan remaja. Berdasarkan Policy Brief “Keluarga Indonesia dan Megatren Kontemporer” yang disusun oleh Prof. Euis Sunarti (2024), menyoroti bahwa perubahan teknologi merupakan salah satu megatren kontemporer yang memengaruhi dinamika keluarga. Penggunaan gadget yang berlebihan beresiko memengaruhi kesehatan mental, perilaku, serta perkembangan sosial anak. Berdasarkan data National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC), Indonesia berada di peringkat keempat dunia dalam kasus konten pornografi anak. Selain itu, dalam empat tahun terakhir tercatat sekitar 5,5 juta kasus terkait konten pornografi anak. Data SNPHAR juga menunjukkan bahwa sebanyak 34,5% anak laki-laki dan 25% anak perempuan pernah terpapar konten pornografi. Tidak hanya itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2022 mencatat terdapat 2.133 kasus anak korban kekerasan, termasuk kasus pornografi dan kejahatan siber.

Selain paparan konten negatif, penggunaan game online yang berlebihan juga menjadi tantangan tersendiri dalam keluarga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2023, anak usia 0–18 tahun mendominasi pengguna game online dengan persentase mencapai 46,2%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendampingan dan pengawasan orang tua menjadi sangat penting agar anak dapat menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan sesuai usia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penerapan digital parenting dan kesadaran digital dalam keluarga. Pendampingan digital tidak hanya sebatas membatasi penggunaan gadget, tetapi juga mencakup komunikasi yang terbuka, pengawasan penggunaan media digital, serta pembentukan kebiasaan penggunaan teknologi yang bijak. Keluarga dapat mulai membangun aturan sederhana, seperti menyediakan waktu tanpa gadget saat makan bersama, membatasi screen time, mengajarkan etika penggunaan internet, serta membiasakan percakapan tanpa distraksi layar.

Pada akhirnya, tantangan terbesar keluarga di era digital bukanlah keberadaan teknologi itu sendiri, melainkan cara keluarga agar mampu menjaga kualitas hubungan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Kehadiran secara fisik saja tidak cukup apabila perhatian dan keterlibatan emosional perlahan hilang akibat distraksi digital. Oleh karena itu, membangun komunikasi yang hangat, memberikan perhatian secara utuh, serta meluangkan waktu bersama tanpa gangguan gadget menjadi langkah sederhana tetapi penting dalam menjaga keharmonisan keluarga di era digital.

Referensi:
Agustina AP. 2023. Perubahan pola komunikasi keluarga di era digital. Global Komunika. 6(2), 73–80.

Atmaja BSD, Alvin S. 2023. Phubbing by Gen-Z and Gen-Y: Exploring smartphone usage and its implication on interpersonal communication in the workplace. JIST. 4(8). Doi: 10.59141/jist.v4i8.665. 

Batubara FR, Alya JM, Hasibuan EA, Lubis AS, Sitepu AS. 2025. Dinamika sosial keluarga di era digital : Studi tentang pola komunikasi antara orang tua dan remaja. Jurnal Ilmiah Teknik Informatika dan Komunikasi. 5(1):106–117.

Indrawati E, Yulius Y, Rahayu A, Nasution ES, Sintawati S. 2024. Meningkatkan kualitas keluarga melalui komunikasi efektif di era digital. Ikra-Ith Abdimas. 8(2):62–68. doi.org/10.37817/ikra-ithabdimas.v8i2.3138

Litha LS, Tobing MM. 2025. Swipe, scroll, silent: Perilaku phubbing dalam komunikasi keluarga Generasi Z di Jakarta. Journal Media Public Relation. 5(1). 

Nurfajriyah L, Jamilah A, Wibawa AA, Supriyono. 2025. Perubahan pola komunikasi dalam keluarga di era teknologi digital. Jurnal Pendidikan Tambusai. 9(1):634–640. 

Putri FRS, Mendiota ER, Anggela FR, Avezahra MH. 2023. Perilaku phubbing pada remaja dalam hubungan keluarga. Jurnal Flourishing. 3(4):120–124. DOI: 10.17977/10.17977/um070v3i42023p120-124. 

Sunarti E. 2018. Pentingnya Ketahanan Keluarga. Bogor: Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Sunarti E. 2021. Dari Yang Terserak: Titian Perjalanan Memahami Ketahanan Keluarga. Bogor: IPB Press

Sunarti E. 2021. Inventori Pengukuran Keluarga. Bogor: IPB Press

Sunarti E. 2024. Keluarga Indonesia dan megatren kontemporer. Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga Indonesia.

Sunarti E. 2024. Indonesian Families and Contemporary Megatrends. Work Paper for Commemorating UN-IYF30+ (30th International Year of The Family).

Tila C. 2025. Internet penetration worldwide from 2014 to October 2025. Statista. Internet. [diakses 2026 Mar 12]. https://www.statista.com/statistics/325706/global-internet-user-penetration/?utm.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *